Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kenyamanan hidup
hanya akan lahir dari
suatu kesejatian”
(Didaktika Hidup Jujur)
“Segala sesuatu yang bukan milikmu, tidak akan pernah menyamankan hatimu!”
‘Toga’ adalah jubah kebesaran dari seorang anak manusia. Ia juga menyimbolkan kualitas sejati dirimu. Ia adalah milikmu yang telah menyatu dengan kepribadianmu.
Dalam konteks ini, sejatinya, seutas toga tidaklah layak untuk dipinjamkan kepada pihak mana pun. Mengapa demikian? Jika terjadi demikian, toga itu tak akan menyamankan siapa pun yang mengenakannya.
“Jangan pernah meminjamkan togamu kepada siapa pun, karena ia tak akan memberikan kenyamanan kepada si pemakainya,” demikian seutas nasihat dari sang kebijaksaan sejati.
Makna Sejati seutas Toga Pinjaman
Apa makna sejati dari ungkapan seutas: “toga pinjaman?” Jika seutas toga sebagai simbol jati diri, maka sungguh tak layak, jika Anda mengenakan toga milik sesamamu, atau pun meminjamkan toga milikmu kepada sesamamu.
Mengapa demikian? Bukankah seutas toga itu adalah:
- Simbol dari kepribadian serta jati dirimu?
- Simbol dari kuasa dan eksistensi dirimu?
- Simbol dari kecerdasan dan kekayaan pengetahuanmu?
Maka, sungguh tidak layak pula, jika Anda meminjamkan togamu itu kepada siapa pun atau mengenakan toga milik sesamamu.
Karena alasan praksisnya, bahwa toga itu ‘tak akan pas dikenakan pada tubuh siapa pun selain dirimu.’
Jika Anda telah membiarkan orang lain memakainya, maka yang terjadi ialah: Anda telah memalsukan jati dirimu dan juga jati diri si peminjamnya.
Selain itu, Anda berdua telah berani untuk memanipulasi kesejatian hidup dengan cara memalsukannya.
Lewat cara tidak beradab ini, maka lahirlah ketidaknyamanan hidup. Karena bukankah suatu ketidaknyamanan itu justru lahir dari suatu kepalsuan?
Refleksi
Hendaknya janganlah sekali-kali Anda meminjamkan toga milikmu kepada sesamamu atau pun berani mengenakan toga milik sesamamu!
Karena bukankah sebuah kepalsuan pun akan melahirkan kepalsuan pula?
Ende, 31 Mei 2025

