“Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira” (Yoh 16: 22a).
Tugas melanjutkan karya pelayanan Yesus yang diemban para murid itu tidak mudah. Mereka harus mengalami banyak dukacita. Namun, Yesus berjanji, bahwa dukacita yang mereka alami itu akan berubah jadi sukacita. Terbukti, bahwa para murid yang mengalami penganiayaan itu tidak merasakan keterpurukan, sebaliknya mereka bersukacita, karena boleh mengalami penderitaan seperti yang Yesus alami.
Walaupun tidak mengalami penganiayaan seperti yang dialami para murid kala itu, sebagai murid Yesus, kita juga mengalami tantangan yang membuat kita berdukacita. Masalahnya, cara kita menghadapi tantangan itu harus berbeda dengan orang lain yang menghalalkan segala cara asal masalahnya terselesaikan. Kita harus mempertimbangkan, apakah keputusan yang kita ambil sesuai dengan perintah-Nya atau tidak.
Kita harus yakin pada janji Tuhan, bahwa jika kita setia dan taat pada-Nya, segala dukacita yang kita alami akan berubah jadi sukacita. Menjalani tantangan seharusnya tidak membuat kita putus asa, melainkan memandangnya sebagai sarana untuk berjuang lebih keras, kreatif, dan lebih mendekatkan diri pada-Nya yang mampu memberikan ketenangan, harapan, dan sukacita.
Laurentia Vonny
Jumat, 30 Mei 2025
Kis 18: 9-18 Mzm 47: 2-7 Yoh 16: 20-23
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

