Kita semua pasti kenal dan akrab dengan nama Maria Magdalena. Kisah hidupnya: menarik, inspiratif, dan penuh dengan kejutan.
Dia adalah pribadi yang sangat beruntung. Dia mendapatkan banyak rahmat dan kasih Tuhan, sehingga dia bisa melihat dunia dengan segala peziarahannya ini jadi sangat indah.
Pada akhirnya Maria Magdalena jadi saksi kebangkitan Tuhan. Dia saksi cinta Tuhan dan teladan bagi kita, bahwa keterpurukan itu tidak akan pernah:
- Menghancurkan hidup kita, ketika jiwa kita mau disentuh oleh Tuhan (Coba nyanyikan lagu Maria Shandi, “Sentuh Hatiku.” Lirik lagunya bagus sekali, menyentuh hati, dan tentunya membuat jiwa kita berada di dekat Tuhan).
Keterpurukan itu tidak akan menghancurkan, ketika jiwa kita mau dipulihkan lagi. Jangan sampai kita gagal memahami tujuan hidup kita. Saat terpuruk, pikir kita, dunia ini sudah berakhir. Kita diam, tidak bergerak, dan terus menerus meratap. Tapi coba berdiri dengan kepala tegak agar kita tegar untuk melangkah dengan mantap hati. Kita mempunyai tujuan hidup yang jelas. Kita mempunyai harapan untuk masa depan yang gemilang.
Keterpurukan itu juga tidak akan menghancurkan diri ini, ketika kita berubah. Perubahan yang meminta persetujuan dari diri kita. Faktanya banyak orang yang tidak mau, tidak berniat, sulit berubah, dan tidak ada kehendak yang baik. Karena ada di antara mereka menikmati jiwanya yang kosong secara spiritual, tapi mempunyai kekayaan materi. Ada yang suka korupsi, berbisnis dengan tidak benar, dan menipu masyarakat. Jiwa mereka kosong dan kehadirannya tidak membawa perubahan.
Keterpurukan itu tidak akan menghancurkan, jika jiwa kita mau bertobat. Pertobatan itu selalu jadi titik balik yang luar biasa. Mereka yang sudah menyatakan dirinya berubah, ya harus hidup baru. Kalau bertobat, tapi untuk menyombongkan diri, seolah-olah dia paling hebat, lalu mengajak setiap orang harus seperti dia. Hal itu tidak benar. Karena itu harus diingat, bahwa setiap pertobatan itu unik untuk masing-masing pribadi: prosesnya, juga dinamika yang terjadi dalam diri masing-masing. Tapi indikasinya jelas: hidup baru.
Jadi, keterpurukan itu tidak akan menghancurkan hidup ini. Hal itu yang dialami oleh Santa Maria Magdalena (Yohanes 20: 1-2, 11-18).
Dalam kisah itu memotret situasi Maria Magdalena yang sedang terpuruk. Hatinya hancur. Saat ditanya, “Kenapa menangis?” Dia menjawab, “Tuhanku sudah dicuri. Aku kehilangan dia. Dia wafat digantung di salib, aku sudah sakit. Sekarang jenasahnya dicuri.“ Dia kehilangan dan terpuruk. Dia tidak mempunyai tongkat untuk menyangga tubuhnya. Dia diam dalam kesedihan dan keterpurukan. Makin sedih saat dia ditanya lagi oleh yang lain, “Mengapa menangis? Siapa yang sedang dicari?”
Ketika dalam kubur itu namanya dipanggil: “Maria!” Dia tersadar dan berseru gembira kepada yang memanggilnya, “Rabuni!” (Guru).
Sungguh perjumpaan yang sangat luar biasa. Maria Magdalena dibangunkan dari keterpurukannya dan berlimpah suka cita. Dia jadi saksi kebangkitan Tuhan Yesus.
Alleluya!
Pastor Petrus Santoso, SCJ

