Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Seiring sejalan, seia
dan sekata, serta
sejalan dan setujuan.”
(Ungkapan Bangsa)
Keberadaan dan Keunikan Semut
Semut adalah sejenis serangga sebagai makhluk hidup yang sangat kecil dan dapat berada di mana-mana. Mereka dapat hidup di dalam tanah, pepohonan, dedaunan, di batang kayu keropos, dan juga di tempat-tempat lembab.
Namun serangga kecil dengan beraneka warna dan jenis ini, ternyata juga memiliki sejumlah keunikan yang dapat mencengangkan nurani manusia. Sungguh, betapa uniknya serangga mungil ini.
Tiga Keunikan Semut sebagai Didaktika Hidup bagi Manusia
- Semut, makhluk hidup yang senantiasa beriringan. Akan tampak gamblang kepada Anda, kapan dan di mana saja, bahwa semut-semut itu senantiasa hidup beriringan. Entah di saat sedang menaiki atau menuruni sebatang pohon, mereka tampak kompak serta beriringan.
- Bersalam-salaman dan berciuman. Di saat sedang berpapasan, mereka pun saling berciuman. Inilah sejenis keunikan yang sangat mengharukan hati manusia.
- Bersikap kompak dan setia untuk bergotong royong.
Keunikan yang ketiga ialah sikap kekompakan dan bergotong royong. Bukanlah sebagai sebuah keanehan, saat kita menyaksikan, bahwa semut-semut kecil itu akan bersama-sama menggotong sepotong makanan menuju ke sarang?
Pelajaran dan Amanat Penting bagi Manusia
Setelah Anda mencermati dengan saksama ketiga buah keunikan dari sifat semut, apa yang terbetik di dalam kesadaran Anda? Didaktika hidup apa yang diperoleh?
Jika Anda bersungguh-sungguh mau berguru kepada ketiga keunikan semut, maka sudilah Anda berguru kepada serangga mungil ini.
- Pelajarilah sikap kekompakan untuk selalu mau beriringan di dalam hidup. Bukankah di sisi yang lain, hal ini justru jadi sebuah tantangan bagi kita manusia? Bukankah betapa sulitnya kita manusia, untuk dapat bersikap kompak dan hidup beriringan?
- Cermatilah dengan saksama, bahwa betapa mereka akan saling menyapa dan bahkan berciuman di saat berpapasan? Mereka telah mendidik kita, agar senantiasa bersikap ramah dan penuh kasih sayang kepada sesama, bukan?
- Hayatilah bagaimana kokohnya kekompakan mereka, lewat sikap bergotong royong di saat menggotong sesuatu. Namun di sisi yang lain, justru betapa rapuh dan sulitnya kita manusia untuk dapat bekerja bersama, bukan?
Maka, bergurulah selalu kepada semesta, karena mereka pun seolah juga memiliki sepasang mata dan telinga!
Sudah sepantasnya pula agar manusia belajar untuk berguru kepada semesta!
Wolotopo, Ende, 29 Mei 2025

