Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tatkala selembar daun
jatuh ke bumi, tak seorang pun
yang peduli.”
(Didaktika Hidup Sadar)
“Jangankan terhadap secarik dedaunan, bahkan di saat manusia mati pun, tidak ada seorang yang sungguh menghiraukannya,” demikian sebuah seruan yang mendeskripsikan sebuah realitas hidup kita.
Puisi
Daun-Daun Jatuh
Tatkala
dedaunan jatuh gugur terkulai di sunyi bumi
adakah sekeping hati kan sendu meratap?
Adalah sedetak nurani yang acuh pada adanya?
Karena
katanya, apalah arti secarik dedaunan?
Bukankah faedahnya cumalah demi kembali tumbuhnya setitik tunas?
Ya,
tapi bukankah itu pun akan kembali terjatuh juga?
(Dari sebuah Refleksi)
Tak Ada Keabadian
Ada pun ujud terselubung dari balik tulisan refleksi ini pertama-tama, bahwa segala sesuatu di atas bumi ini tak ada yang kekal. Riil, bahwa segala sesuatu pun akan jatuh, gugur, serta mati ditelan bumi ini.
Jika kepergian seorang manusia itu dianggap lumrah dan biasa, apalagi hal kejatuhan secarik daun pohon? Bukankah manusia berasumsi, bahwa segala sesuatu pun akan mati? Maka, tatkala menghadapi realitas itu, kita tidak perlu peduli.
Bukankah berdasarkan hukum kehidupan dan secara alamiah, bahwa segala sesuatu pun akan gugur dan jatuh? Hal itu membuktikan, bahwa tidak ada yang sungguh abadi di atas bumi ini.
Di dalam puisi itu dilukiskan, bahwa tatkala sehelai daun terjatuh, maka secara alam biologis, akan tumbuh setitik tunas baru. Tapi diyakini pula, bahwa kelak tunas yang jadi dewasa itu kelak akan juga kembali jatuh.
WS Rendra pernah berkata, bahwa sesungguhnya, hidup ini hanyalah bagai menunda suatu kekalahan? Hal ini mau membuktikan, bahwa sejatinya, manusia pun telah mengetahui akhir dari siklus kehidupan ini.
Simbol Akhir Kehidupan Manusia
Tulisan ini mau mengungkapkan suatu kebenaran dari akhir kehidupan umat manusia. Jika betapa sepi dan pilunya akhir dari kehidupan secarik dedaunan, nah demikian sepi dan merananya akhir dari kehidupan manusia.
Slogan “patah tumbuh, hilang pun berganti,” hanyalah sebuah slogan hampa yang tidak banyak memberikan harapan.
Refleksi
Marilah kita hidup dengan sungguh sadar, bahwa segala sesuatu di atas bumi ini, hanyalah sebuah kesementaraan.
Anda dan saya kelak ibarat secarik dedaunan yang juga akan terkapar di tanah.
Kediri, 27 Mei 2025

