Simply da Flores
1.
Orasi Ombak Gelombang
Tak peduli siang atau malam
ombak gelombang terus bicara
Entah musim panas atau dingin
suara debur ombak gelombang menggema
Apakah ada yang peduli melihat
Adakah yang rela datang mendengar?
Bahkan tak ada yang memberi perhatian
ombak lestari gelombang abadi adalah suara alam semesta
Ombak itu suara samudra
Gelombang itu seruan lautan
setiap saat datang ke pasir pantai
sampaikan pesan alam semesta
kepada semua penghuni daratan
kepada semua nelayan dan pelaut
Bahkan juga kepada isi samudra raya dan angkasa
Bahwa laut itu asin bagi lidah insani
tak perlu membawa garam kreasimu untuk asinkan samudra
2.
Gugatan Angin Badai
Hai manusia
mengapa begitu sombong dan lupa diri
karena agungkan nalar pikiranmu
karena dibutakan selera hawa nafsumu
Dengan segala ilmu dan teknologi
serta harta dan kekuasaan duniawi
Coba lihat di mana telapak kakimu
Coba sadari udara di desah hafasmu
Apakah itu kreasi nalar pikiranmu?
Hai manusia…
Selama ada langkah kehidupanmu
semua aku tahu dalam desah nafasmu
maka kupahami segala keterbatasan pribadimu
Tak ada yang tersembunyi dan bisa ditipu
apalagi membohongi dirimu sendiri
Badai topan dariku adalah peringatan
bahwa aku pun bisa marah dan menegur
sebagai fakta sabda alam semesta
3.
Air Mata Ratapan Hujan
Bukan saja air matamu bisa menetes
saat kagum terharu atau lara derita
Air matamu manusia
adalah pesan jiwa raga dalam diam
saat tak mampu merangkai kata
atas pengalaman yang menulis nafasmu
Atas kisah cerita yang sulit dirangkum bahasa
dalam ziarah kelana kehidupanmu
Langit pun punya air mata
ketika mentari membaca derita bumi tanah
hadapi semua pola tingkahmu manusia
Ketika rintihan lara nestapa tanah
yang dikoyak kerakusan nafsu insanimu
Ratapan hujan turun mengobati luka bumi
Entahkah pribadimu manusia sadar dan peduli?
4.
Luka Lara Nestapa Bumi
Bumi tanah itu ibu kehidupan
semua makhluk membutuhkan manfaatnya
Bahkan manusia tercipta dari tanah
hidup dari alam lingkungan
dan mati pun jenazahnya dipeluk debu
Namun
karena kalian manusia meledak beranak pinak
maka wajah bumi dicakar dan dikoyak
demi aneka kebutuhan kehidupanmu
Bahkan ada yang sengaja merusak dengan racun dan senjata
dengan tambang dan aneka polusi
Entah sampai kapan?
Luka lara derita nestapa bumi
ketika kalian manusia menganggap bumi tanah hanya barang mati
Apalagi merasa dirimu berkuasa mutlak
Karena mengagungkan super pikiranmu
Karena hanya pentingkan kepuasan gengsi seleramu
Lalu lupa tak peduli hakikat diri pribadimu
yang hanya bagian dari alam semesta
yang tergantung mutlak pada alam
Siapakah kalian manusia jika tanpa alam semesta?
5.
Laskar Sosok Wajah Terasingkan
Ada masyarakat yang tergusur
dari kampung halaman tumpah darahnya
karena sumber daya alamnya dicaplok
demi keuntungan para pemodal
dengan aneka kata indah dan luhur
sebagai alasan yang sangat humanis
Teriakan komunitas masyarakat adat
ketika tersingkir dan diusir dari wilayah warisan leluhurnya
Perjuangan panjang tak berujung
Mereka merana di tengah kelimpahan
terpaksa diam dan mati di lumbung kekayaannya
Di antara pemukiman kaya modern
masyarakat kecil pewaris tanah air. lara nestapa mengemis kebenaran
Mereka gelandangan tak bisa bicara
di bawah emperan gedung megah metropolitan
Mereka miskin menderita di dusun, kampung desa dan kota
Entah ke mana dan sampai kapan?

