Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Karena peperangan
bermula dari pikiran
manusia, maka dalam
pikiran manusialah
pertahanan untuk
menjaga perdamaian
harus ditegakkan.”
(Konstitusi UNESCO)
Menurut Renzo Tosi, adagium “Bellum pacis pater,” “Perang adalah bapak dari perdamaian,” adalah elaborasi dari pemikiran filosof Yunani Kuno, Herakleitos. Demikian Pius Pandor, CP dalam bukunya berjudul “Ex Latina Claritas.”
Mengapa demikian? Konsepnya, bahwa perang memiliki kekuatan menceraikan sekaligus menciptakan kesatuan yang erat antara pihak-pihak yang bertikai. Karena itu, jika menghendaki perdamaian, maka bersiaplah menghadapi perang.
Si Vis Pacem, Para Bellum Versus Si Vis Pacem, Para Caritatem
Terdapat beberapa adagium tersohor dalam literatur klasik. Antara lain, “Si vis pacem, para belum,” “Jika ingin damai, maka siapkanlah peperangan.” Namun kebenaran dari adagium ini mendapat tantangan dan penolakan, antara lain dari Dom Helder Camara, John Gantung, dan Paus Yohanes Paulus II.
Bahkan dengan sangat lantang Camara berargumen, “Tak satu pun perdamaian di atas bumi ini yang bisa diciptakan melalui kekerasan. Bukankah kekerasan justru akan melahirkan kekerasan?” Selanjutnya dikatakannya, bahwa menghentikan kekerasan hanya dapat dibangun lewat komitmen perdamaian.
Sementara itu, Santo Yohanes Paulus II berpendapat, “Perang tidak bisa diterima, karena pada ujungnya perang adalah kegagalan dari semua humanisme sejati. Perang adalah kekalahan bagi kemanusiaan.”
Karena itu, beliau menawarkan paradigma baru, “Si vis pacem, para caritatem” “Jika menginginkan perdamaian, maka siapkanlah cinta kasih.”
Angin Segar dari Hirosima
Pada tahun 1981 di Hirosima, Paus berbicara mengenai perang sebagai praktik manusia yang mesti ditinggalkan. “Karena adanya penderitaan yang diakibatkan dari setiap perang, maka orang harus meyakinkan diri lagi dan lagi, bahwa perang dapat dielakkan. Kemanusiaan tidak dimaksudkan sebagai penghancuran diri. Pertentangan ideologi, aspirasi, dan kepentingan harus diselesaikan dengan sarana lain, dan bukan dengan perang dan kekerasan. Manusia wajib menyelesaikan segala perbedaan dan konflik secara damai.” (Ex Latina Claritas).
Mari Membangun Konsep Hidup Sejati
Semoga lewat tulisan refleksi ini, kita disadarkan, agar memiliki konsep hidup yang benar soal perdamaian sejati di atas muka bumi ini. Kita wajib dan bersikap tegas untuk berani menolak aneka cara yang dapat melahirkan kekerasan yang dapat menghancurkan kemanusiaan.
Mari, kita miliki konsep hidup yang benar, bahwa perdamaian tidak pernah dibangun lewat kekerasan.
Ingatlah!
“Si vis pacem, para caritatem dan bukan si vis pacem, para bellum.”
Kediri, 26 Mei 2025

