“Jika sepanjang jalan kenangan itu kesannya romantis, saya lebih bahagia menyusuri jalan kenyataan hidup ini dan menyukurinya.” -Mas Redjo
Mengenang untuk sarana refleksi itu baik, asal jangan membuat kita terlena dan jadi malas. Karena malas itu datangnya dari si Jahat.
Saya tidak mau dihanyutkan oleh sentimental. Tapi saya mengenang untuk berani menerima kenyataan dan hikmatnya agar saya tabah, sabar, dan rendah hati.
“Selalu melihat realita, karena masa depan itu harus makin baik!” Saya memotivasi diri itu anugerah Tuhan yang luar biasa, mengingatkan dan menyadarkan saya tentang hakikat perjuangan sebagai pertanggung-jawaban hidup yang terberi.
Karena masa lalu adalah kenangan, saya tidak mau hidup fokus di sana, tapi menatap ke masa depan yang lebih baik. Caranya berani berdamai dengan diri sendiri agar tetap ‘move on’.
Masa lalu itu tidak sekadar untuk dilupakan, tapi dijadikan pupuk penyubur hidup kita agar berbuah kelimpahan Tuhan.
Berdamai dengan diri sendiri untuk saling memaafkan dan mendoakan agar hidup kita tanpa beban masa lalu. Hidup pun tenang dan tentram.
Masa lalu itu kenangan, hari ini adalah pijakan untuk menyongsong hari esok yang cerah, karena Tuhan sertai hidup kita. Alleluya!
Mas Redjo

