Itu pengetahuan akan Allah atau pengalaman akan Allah. Apakah Allah secara bersama menggetarkan dan mengagumkan? Allah begitu dekat atau jauh?
Apakah kamu kelelahan mencari-Nya atau kamu ditemukan saat dirimu kelelahan. Pikirkan, apakah iman itu harus diterangkan secara detail atau berlangsung terus sebagai misteri yang menempatkan hati untuk tetap percaya, tanpa harus ada penjelasan secara detail.
Saat manusia jadi seperti Allah, justru mengecewakan dan membuat banyak orang tidak percaya. Sebab, keberadaan Allah tidak bisa disimpulkan oleh kata-kata seorang manusia.
Saat manusia begitu percaya diri, bisa menjelaskan tentang Allah, justru mendatangkan banyak pertanyaan. Sebab, keberadaan Allah tidak cukup diwakili oleh satu pengalaman saja.
Saat manusia ditempatkan lebih dari posisinya Allah, justru ia terkurung oleh ide-idenya sendiri. Dia seperti sedang bermain sandiwara, tanpa ada sutradara. Dia sedang menciptakan ceritanya sendiri, tapi, kasihan tidak ada yang menontonnya.
Maka, tempatkanlah pengalaman imanmu lewat perjumpaan-perjumpaan.
Rasakanlah pengalaman imanmu dalam pengalaman akan kehadiran Allah.
Benamkanlah pengalaman imanmu saat membaca sabda-Nya dan menemukan pesan dari sabda-Nya itu.
Yang jadi kunci dari semuanya adalah, supaya tahu tentang iman kita, jangan mudah berpindah, karena itu tanda bahwa kita tidak setia. Sebab iman itu bukan barang dagangan. Iman itu adalah mutiara yang berharga dan akan menuntun pada kehidupan yang kekal: kebahagiaan yang sempurna.
Macau, 25 Mei 2025
Rm. Petrus Santoso SCJ

