“Memahami orang lain tanpa terluka agar kita belajar bijaksana.” -Mas Redjo
Istri saya kecewa, karena sehari sebelum hari H-nya anak bontot, AK membatalkan niatnya untuk menemani kami kondangan ke relasi bisnis, Pak HT. Sebaliknya ia pergi dengan keluarga pacarnya. Alasan AK, Popo pacarnya yang terkena kanker stadium 3 itu sembuh total, ingin syukuran keluarga; sekaligus merayakan hari ulang tahunnya!
“Ndak usah uring-uringan. Memang selama ini AK yang berhubungan dengan anak Pak HT. Kita maklumi saja. Usai kondangan, kita pacaran lagi. Kita nongkrong di SMS,” gurau saya, lalu mengalihkan ke hal lain.
Sejak anak mulai beranjak dewasa, saya meminta istri untuk berbesar hati, jika mereka mempunyai acara dan kesibukan sendiri. Belajar untuk tidak merepotkan, tapi memahami anak agar kami tidak bergantung pada mereka. Karena cepat atau lambat, mereka bakal menikah, dan meninggalkan kami, tinggal berdua lagi.
Dengan menyederhanakan pola pikir, kami tidak ingin dipusingi dan diribeti persoalan atau hal sepele yang tidak penting.
Ketika anak batal menemani pergi kondangan, kami dapat berangkat sendiri. Kami bisa meminta tolong ke sopir kantor. Jika mobil dipakai anak, kami dapat menggunakan grab, dan seterusnya.
Sejatinya yang membuat kita jadi pusing dan uring-uringan itu datang dari pikiran sendiri. Kita kecewa dan sedih, karena egois. Kita tidak berani menerima kenyataan pahit itu dengan bersyukur, berbesar hati, dan memahami persoalan mereka.
Berbeda hasilnya adalah, ketika kita berani menyederhanakan persoalan atau masalah itu. Yang berat serasa jadi ringan, dan yang sulit serasa jadi mudah. Sehingga semua jadi lebih dimudahkan dan lancar.
Selalu menyederhanakan pola pikir agar hidup ini serasa dimudahkan dan tiada beban. Hidup ikhlas itu tuntas dan berkualitas.
Mas Redjo

