Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Peliharalah dulu air, baru menaburkan ikan.”
Masyarakat kita mengenal frase, memelihara ikan, sebutan atau predikat bagi orang yang menernakan ikan sebagai sebuah profesi.
Secara filosofi, kita, sering terjebak dengan menyibukkan diri untuk mengutamakan memelihara ikan, padahal kita belum memperhatikan kualitas airnya.
Bersihkah airnya, berlumpur ataukah jernih. Karena ada jenis ikan yang memang senang hidup di dalam air berlumpur. Tapi, justru tidak sedikit ikan yang hanya tenteram hidup di dalam air yang jernih dan bersih.
Pertama-tama yang perlu diperhatikan ialah bagaimana kondisi airnya, dan bukan ikannya.
Ikan adalah sang manusia, dan air adalah suasana, kondisi, keadaan, lingkungan hidup kita.
Entah itu sebuah organisasi, lembaga keagamaan, atau sebuah persekutuan hidup kemanusiaan.
Siapkan dulu sikon yang nyaman dan aman demi berlangsungnya suatu persekutuan hidup, baru menaburkan ikannya.
Ikan, adalah saudara dan saya. Bagaimana jika saya dan kau hidup di dalam sebuah kondisi hidup yang kacau balau dan tidak tenteram. Bagaimana kau dan saya bisa hidup di dalam suatu suasana yang diskriminatif serta serba intoleransi.
Masyarakat kita sering terjebak dengan pertama-tama sibuk memelihara ikan, tapi mengabaikan kondisi airnya.
Maka, pertama-tama yang perlu dipelihara bukan ikannya, melainkan airnya. Siapkan dulu kondisi air jernih di dalam organisasimu, baru menaburkan ikannya.
Lewat tulisan ini, penulis mengajak masyarakat kita agar berani mengubah ‘maindset’ dan paradigma lama, bahwa yang utama dan pertama adalah memelihara kondisi air, baru memelihara ikan.
Mengapa kehidupan manusia sering penuh dilematis, khaostis, serta tidak sehat, faktor utama dan pertama, justru karena kondisi masyarakat kita yang memang tidak sehat.
Maka, dahulukanlah air, baru ikannya!
Kediri, 24 Mei 2025

