“Orang reunian itu kumpul alumni, teman sekampung, teman sanggar seni, dan sebagainya. Semua ingin nostalgia dan bahagia.” -Mas Redjo
Kumpul bersama dan guyup itu menyenangkan, menyehatkan, dan membahagiakan.
Ada teman yang bangga bercerita tentang kisah sukses keluarga, karier, masa tua yang sakit-sakitan, rekan yang meninggal, hingga bahan untuk membuat konten. Yang jelas dan pasti, semua ingin riang gembira.
Reuni itu kesempatan emas dan sayang sekali, jika dilewatkan. Apalagi setelah sekian lama tidak berjumpa satu dengan yang lain.
Reuni itu sempat tidak sempat kudu dihadiri, karena kita tidak tahu, bisa jadi esok lusa tidak bersua lagi dengan A, B, atau C. Reuni itu ibarat menunggu antrian untuk berpulang kepada-Nya …?!
Jangan berpikir buruk. Tapi aneh, saya sering kali mengalami, setiap kali reunian dengan teman sekolah, sesama perantuan, teman sanggar seni … tidak lama setelah reuni itu tentu ada teman yang berpulang. Reuni di rumah duka. Reuni itu seperti sarana pertemuan terakhir untuk pamit.
Serem? Tidak! Karena rasa ngeri itu datang dari prasangka buruk, ulah si Jahat. Hati riang gembira adalah obat. Jika ada yang sakit penyakit atau meninggal itu hal biasa. Orang sakit dan penyakitan tidak menjaga pola makan dan hidup sehat. Orang meninggal itu sudah waktunya dan sesuai rencana-Nya.
Orang bicara, bahwa reuni itu ibarat menunggu antrian untuk berpulang pada Tuhan, itu juga hak mereka. Lebih bijak itu kita berpikir positif, menjaga kesehatan sendiri, saling mendoakan untuk kesehatan serta keselamatan semua.
Reuni itu adalah hal biasa, tapi jadi istimewa, jika disyukuri. Kita diberi kesehatan dan kesempatan untuk bertemu dan berbagi keriangan bersama teman dan sahabat.
Dengan saling mendoakan, kita berbagi berkat. Semoga Tuhan izinkan kita untuk bertemu kembali di reuni mendatang, dan kelak di rumah Tuhan.
Reuni itu aura positif hidup bahagia. Jangan lupa untuk selalu saling berkirim kabar lewat WA dan saling mendoakan. Kita reunian setiap hari.
Mas Redjo

