Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Mengapa segala
sesuatu harus selalu
diributkan, apa yang
sesungguhnya terjadi?”
(Amanat Hidup Sadar)
Sakitnya Gendang Telinga Kita
Di negeri yang sangat molek nan agamis ini, koq mengapa, segala sesuatu cenderung untuk selalu diributkan? Apa sesungguhnya yang telah terjadi?
Kegaduhan itu justru bermula dari gerbang agung istana negara dan bahkan hingga merambat ke pelosok negeri ini.
- Kegaduhan soal palsu memalsukan sesuatu, pun hal otentika ataukah imitasinya sesuatu yang kini sedang kian dihebohkan itu. Tuding-menuding, terjang-menerjang, serta tantang-menantang pun seolah-olah telah jadi sebuah kelumrahan di dalam tubuh negeri kita nan elok dan jelita ini.
- Kasus korupsi yang berjamaah, pagar laut yang tidak jelas ujung akhir kisahnya, dan sikap saling mendiamkan sebuah kebobrokan berjamaah hingga ke hal kepemimpinan yang dianggap sebagai matahari kembar. Ya, sungguh betapa sakitnya gendang telinga para warga bangsa kita.
Tak ada Hari tanpa Cek Cok
- Percekcokan soal pemilu curang yang telah lama berlalu hingga kini masih terngiang-ngiang di gendang telinga kita. Juga percekcokan terselubung soal perubahan kebijakan penerapan kurikulum, juga seolah-olah, bahwa setiap penguasa yang baru, wajib menunjukkan taring culasnya. Padahal yang hal yang sebenarnya terjadi hanyalah sekadar poles-memoles kebijakan yang bahkan tidak menyentuh esensi dasar dari spirit sejati di bidang edukasi itu.
- Di sisi yang lain, kebijakan makanan gratis untuk para murid pun belum jelas penerapannya dan hal itu telah menumbuhkan aneka polemik yang saling berseliweran di atas ubun-ubun kepala kita. Sungguh hal itu dapat menumbuhkan sikap saling tidak percaya di antara para warga. Maka, tumbuhlah benih percekcokan laksana riapnya rerumputan di musim hujan.
Apa dan Mengapa sampai Terjadi Demikian?
Apa dan mengapa sampai terjadi kegaduhan yang sedemikian carut-marutnya? Adakah dalang alias si ‘actor intellectual’ yang bermain di balik layar? Ataukah hal ini mau menunjukkan, bahwa betapa kacau dan amburadulnya sistem kehidupan bernegara dan berbangsa kita?
Tentu dan sudah sangat pasti, bahwa hadirnya sebuah kondisi yang akhirnya berujung ribut melulu ini, justru bersumber dari faktor manusia. Dia selaku pengelola kebijakan di dalam tubuh bangsa ini.
Pentingnya Manusia Berkualitas
Sesungguhnya bangsa yang besar ini justru sungguh membutuhkan manusia berkualitas selaku pengelola di dalam tubuh bangsa ini. Ya, kualitas manusia yang bagaimana?
Ya, manusia berkualitas yang sungguh beriman dan bertaqwa. Dari aspek manusia yang berkualitas ini, maka akan melahirkan para abdi negara yang bersikap dewasa, berkepribadian matang, dan berkarakter mulia.
Sejatinya bangsa ini sungguh membutuhkan spirit edukasi yang sesuai dengan karakter dan watak khas atau jiwa bangsa ini. Selama sistem pendidikan kita hanya mengadopsi dari bangsa lain dan main comot sana-sini, maka akan kian terpuruklah kondisi serta kualitas psikologis para warga bangsa besar ini.
Refleksi
Mari kita belajar untuk bersikap dewasa, tulus, dan jujur, serta sanggup untuk mengendalikan diri, agar cermat untuk memahami sebuah permasalahan. Hindarilah penghamburan kata yang berdampak menimbulkan keributan.
“Berpikirlah matang,
sebelum Anda bicara!”
Kediri, 22 Mei 2025

