“Jangan manjakan anak dengan kemudahan agar tidak jadi boneka kaca yang mudah pecah. Tapi ajari makna perjuangan agar anak jadi tangguh dan mandiri.” -Mas Redjo
Berita sedih miris tentang banyak anak muda yang mengakhiri hidup, karena stres, membuat hati ini jadi prihatin dan nelangsa.
Saya tidak mengharapkan kisah itu terjadi di lingkungan keluarga. Istri saya adalah anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara, dan sangat dimanja. Pergi ke mana pun selalu didampingi atau diantar jemput oleh sopir, sehingga kurang mandiri.
Ketika mulai serius dan hendak menikahinya, saya ragu, apakah mampu menata karakternya yang sudah terbentuk itu? Bagaimana dengan karakter anak-anak nanti?
Kedua orangtua meneguhkan hati, ketika saya mengajak calon istri ke rumah, mengenalkannya pada mereka.
“Bapak percaya padamu, Le. Kau pasti mampu mengarahkan dan membimbing istrimu,” kata Bapak menepuk-nepuk bahu saya agar tidak ragu, tapi percaya diri.
Begitu pula dengan Ibu yang sreg dengan calon saya. Karena sopan, njawani, dan keibuan.
Ternyata ketakutan itu dihantui oleh bayangan saya sendiri. Ia meminta saya untuk segera melamarnya. Ia juga bersedia mengikuti agama saya.
“Saya kan harus mengikuti suami,” katanya manja.
Sejatinya, ketakutan itu hal wajar, tapi harus dikendalikan dan diatasi serta diserah-ikhlaskan pada Tuhan agar pikiran kita jadi tenang.
Begitu pula dengan perkembangan anak zaman sekarang. Jika banyak anak mudah putus asa, stress, dan mengambil jalan pintas. Karena dalam keluarga itu tidak ada rasa kepedulian untuk mengingatkan, mendukung, dan saling melindungi satu dengan yang lain. Banyak di antara mereka yang cenderung sibuk dengan dunianya sendiri.
Saya beruntung dan bersyukur, karena memperoleh warisan cara mendidik anak dari orangtua, yakni menghidupi kebiasaan baik itu sejak dini agar tidak repot di masa tua.
Sebagai contoh, saya mengajari anak mendisiplinkan kebiasaan ke Gereja, doa bersama, kumpul keluarga untuk berdiskusi atau tukar pikiran hal-hal sederhana. Tujuan membangun kebersamaan itu agar hubungan kami makin akrab dan guyup. Anak-anak makin percaya diri dan mandiri.
Sebagai orangtua, kami juga tidak boleh bosan dan lelah membimbing serta mengingatkan anak-anak dengan hati. Mereka dipercayakan Tuhan pada kami untuk jadi bagian keluarga bahagia.
Selalu ada dan hadir untuk keluarga, karena kami disatukan oleh iman pada Yesus untuk saling mengasihi
Tuhan memberkati.
Mas Redjo

