Terima kasih, Frater, atas khotbah Anda tentang kasih pagi ini. Saya sangat menghargai pesan kasih yang Anda sampaikan, meskipun tidak ada tepuk tangan. Bahkan Anda lupa sebut nama. Atau Anda memang ingin berpesan, bukan nama saya, tapi pesan Tuhan yang harus diingat.
Anda benar, bahwa kasih itu harus nyata dan biasa saja yang mengimplikasikan, bahwa kasih yang sesungguhnya tidak harus berupa pernyataan atau tindakan besar, akan tetapi harus terwujud dalam tindakan sehari-hari yang sederhana dan konsisten.
Contohnya, seperti yang Anda ceritakan: “Saya memutuskan untuk lebih dulu membantu seorang Ibu di halte, di saat saya sendiri sedang terburu waktu ikut kuliah, dengan resiko saya terlambat.” Kasih adalah keberanian untuk memilih bertindak atau tidak. Misalnya memberi apresiasi pada prestasi teman, atau sekadar mendengar curhatan teman dengan penuh perhatian.
Makin sehat dan, jika sudah ditahbiskan berkhotbah lagi di Sanberna.
Salam sehat.
Jlitheng

