Red-Joss.com – Peletakan batu pertama itu hal biasa. Tapi ada yang tidak biasa dalam peristiwa ‘Peletakan Batu Pertama’ Gereja Sanberna pada hari Minggu, 8 Agustus 2021, jam 08.00, melalui Uskup KAJ Ignatius Kardinal Suharyo. Di antara kita, mungkin tidak banyak yang tahu…
Bermula dari Doa. “Doa selalu jadi tumpuan dan kekuatan utama” yang melandasi semua hal dalam proses pembangunan gereja seperti yang dikatakan oleh Romo Kepala Paroki pada hari Kamis, 22 Juli 2021: “Berkat dukungan doa seluruh umat” lewat berbagai kelompok atau komunitas doa dan Novena, untuk memohon kelancaran mendapatkan IMB, hari ini saya beritakan bahwa doa kita telah dikabulkan Tuhan.”
Di awal peletakan batu pertama, Kardinal Suharjo sebagai Kepala Keuskupan Agung Jakarta, memimpin doa berkat material bahan bangunan dan lahan, yang disusul dengan peletakan batu pertama oleh para tokoh masyarakat, mulai dari tingkat RT dan RW, Kelurahan, Polsek, Koramil, FKUB, Romo Kepala Paroki, dan Bapak Kardinal yang memilih giliran terakhir.


(foto-foto: istimewa)
Satu pemandangan yang tidak lazim, ketika pemimpin tertinggi Keuskupan, justru memilih giliran terakhir pada momentum peletakan batu pertama gereja di keuskupan-Nya. “Tanda atau pesan apa yang ingin disampaikan oleh beliau?“Saya yakin sekali, ada pesan yang ingin disimpan di hati semua umat Sanberna.”
Saya tertarik untuk mengaitkan peristiwa langka (dan tidak lazim) ini dengan Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus :
“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” (Efesus 2:19).
Paulus mengingatkan umat di Efesus bahwa “mereka itu adalah keluarga besar, yaitu anggota keluarga Allah. Keluarga yang dipersatukan tidak oleh relasi daging, tapi oleh Darah Yesus yang oleh kasih karunia dicurahkan bagi kita. Mereka tadinya orang asing baik bagi satu sama yang lainnya maupun bagi Allah. Mereka tadinya pendatang, seorang tamu yang memiliki batas-batas dan tidak bisa menerima atau melakukan sesuatu.”
Sekarang, dengan gereja baru ini, semuanya adalah anggota keluarga yang bisa dengan berani mendekat kepada Allah sebagai seorang anak mendekat kepada Bapa-Nya.
Maka kita dapat bersaksi bahwa “Gerejaku adalah Keluargaku.” Kita akan hand in hand merawat jati diri kita ini dengan doa yang tak kunjung padam.
Saya akhiri Salam Pagi hari ini dengan lagu indah: “If we hold on together.“
If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
Where clouds roll by
For you and I
Don’t lose your way
With each passing day
You’ve come so far
Don’t throw it away
Live believing
Dreams are for weaving
Wonders are waiting to start
Live your story
Faith, hope and glory
Hold to the truth in your heart
Salam sehat dan hangatku sebagai satu Keluarga Allah.
…
Jlitheng


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.