“Hadapilah kematian dengan cinta. Karena kita harus berpulang pada Sang Pencipta yang sumber cinta.” -Mas Redjo
Kematian itu tidak harus dihindari, apalagi ditakuti, tapi disadari dan dihadapi agar kita menyiapkan diri sebaik-baiknya. Karena kita ini milik-Nya.
Umur manusia itu sekadar bilangan, tapi hidup sejati adalah pemaknaan diri agar hidup kita berkenan bagi Tuhan.
Bersyukur atas anugerah-Nya, saya diingatkan dan disadarkan untuk menyiapkan hati, bahwa cepat atau
lambat, kita harus kembali kepada Tuhan. Umur atau batas hidup kita itu hanya Dia yang Maha Tahu.
Apakah pernah berpikir, bahwa pagi ini, siang, atau malam nanti kita bakal berpulang untuk menghadap Tuhan?
Jangan pernah berpikir sempit dan naif, karena merasa muda, sehat, dan penuh vitalitas, bakal dilimpahi panjang umur.
Lihat dan sadari, Yesus wafat usia 33 tahun. Carlo Acutis, Santo asal Italia itu meninggal di usia 15 tahun. Juga banyak contoh orang kudus lainnya. Sejatinya tidak seorang pun yang tahu batasan umur manusia.
Karena Tuhan Sumber Cinta, saya mencintai alam ciptaan-Nya untuk mengelola dan memelihara dengan baik dan bijaksana, seperti halnya mengelola bakat dan talenta saya agar berguna bagi sesama.
Hidup sejati itu tidak berpusat pada diri sendiri, tapi bersumber kepada Yang Ilahi. Hidup untuk memberikan yang terbaik pada sesama, yakni berupa pikiran, perkataan, sikap, perilaku, dan perbuatan kita agar berkenan bagi Tuhan.
Ketika hidup ini diorientasikan untuk menghadirkan wajah kasih Tuhan dalam keseharian, kita makin intim dan dekat dengan-Nya.
Kita bersatu dengan Tuhan lewat Ekaristi Kudus, berdoa, membaca KS dan melaksanakannya. Serta dengan berbagi kebaikan dan amal kasih pada sesama secara ikhlas, hidup kita makin berkualitas.
Hidup untuk memberi yang terbaik pada sesama dan ikhlas adalah hidup yang berkualitas. Hidup untuk mengabdi dan memuliakan Tuhan. Terpujilah nama-Nya yang Maha Kudus. Alleluya!
Mas Redjo

