𝗈𝗅𝖾𝗁: 𝖯𝖾𝗍𝖾𝗋 𝖲𝗎𝗋𝗂𝖺𝖽𝗂
Pada tanggal 18 Mei 2025, Paus Leo XIV akan merayakan Misa inagurasinya sebagai Paus, yang dimulai dengan penerimaan jabatan kepausannya setelah ia terpilih, 8 Mei 2025.
Upacara ini, yang kaya akan simbol dan gestur penting, diharapkan mencakup beberapa perubahan penting dibanding inagurasi Paus Fransiskus pada tahun 2013, yang memperlihatkan pendekatan keseluruhan yang berbeda.
Khususnya, yang akan jadi “perwakilan Umat Allah,” bukan hanya para Kardinal, yang akan mengikrarkan ketaatan kepada Paus baru setelah penyerahan Pallium dan Cincin Nelayan.
Sebelum Misa: Berdoa Bersama Para Patriark dan Prisesi Kepausan
Liturgi resmi untuk inagurasi tidak mencakup sapaan umum sebelum Misa. Namun, pada tahun 2013, Paus Fransiskus memilih untuk berkendara melalui Lapangan Santo Petrus dengan mobil Paus untuk menyambut umat yang berkumpul sebelum upacara. Kemungkinan besar Paus Leo XIV akan melakukan hal serupa, meskipun Vatikan belum menegaskan hal ini.
Paus kemudian akan melanjutkan perjalanan ke Basilika yang dikosongkan dari umat, untuk turun ke ruang Sakramen Pengakuan Dosa di Basilika Santo Petrus. Ruang suci ini, yang terletak di bawah Altar Pengakuan Dosa, menandai tempat peristirahatan tradisional Rasul Petrus, murid pertama yang mengakui Yesus sebagai Kristus dan Paus pertama.
Di sini, Paus baru akan berdoa sejenak, bersama para Patriark dan Uskup Agung utama Gereja Katolik Timur, sebagai tanda persatuan dengan komunitas kuno yang bersekutu dengan Roma.
Setelah berdoa, Paus Leo XIV akan berjalan di bagian tengah Basilika, mengikuti para Uskup, Uskup Agung, Kardinal, dan Patriark, sebelum muncul di tangga Basilika Santo Petrus, tempat Misa akan dirayakan. Kerumunan umat diperkirakan akan tumpah ruah hingga ke luar lapangan Santo Petrus, memenuhi Via della Conciliazione saat dunia menyaksikan momen bersejarah ini.
Bahasa dan Kesatuan dalam Liturgi
Kanon Misa akan didoakan dalam Bahasa Latin, bahasa universal Gereja. Namun, mencerminkan warisan Paus asal Peru dan Amerika Serikat, bacaan pertama akan dibacakan dalam Bahasa Spanyol dan bacaan kedua dalam Bahasa Inggris. Mazmur akan dinyanyikan dalam Bahasa Italia, dan Bacaan Injil akan dibacakan dua kali – pertama dalam Bahasa Latin, kemudian dalam Bahasa Yunani – sebagai tanda kesatuan antara tradisi Latin dan Timur.
Penyerahan Pallium
Setelah pewartaan Injil – bukan di awal Misa, seperti kebiasaan sebelumnya – seorang Kardinal Diakon akan mendekati Paus dan menyampaikan doa dalam Bahasa Latin, dengan menyatakan, “Hari ini engkau menggantikan Petrus dalam jabatan episkopat Gereja ini, yang telah ia bawa kepada iman bersama dengan Rasul Paulus.”
Kardinal tersebut kemudian akan mengenakan Pallium di bahu Paus. Busana liturgi ini berupa pita wol putih, ditandai dengan salib hitam, yang melambangkan luka-luka Kristus. Busana ini dikenakan di atas kasula dan melambangkan peran Paus sebagai Gembala, yang membawa domba yang hilang di bahunya (Luk 15:5). Busana ini merupakan tanda persatuan dengan para Uskup Agung metropolitan Gereja, yang menerima Pallium mereka dari Paus setiap tanggal 29 Juni, pada Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus.
Sejak inagurasi Paus Yohanes Paulus I, Pallium telah menggantikan tiara kepausan sebagai simbol utama otoritas Paus, yang menunjukkan pendekatan yang lebih pastoral terhadap kepausan. Inilah sebabnya mengapa istilah “Misa Inagurasi” sekarang lebih disukai daripada “Misa Penobatan.”
Misa ini merupakan momen penting di awal kepausan, meskipun bukan penahbisan – Paus Leo XIV telah jadi uskup sejak 2014 dan jadi Paus sepenuhnya sejak ia secara resmi menerima keterpilihannya sebagai penerus ke-266 Santo Petrus pada 8 Mei 2025.
Cincin Nelayan
Segera setelah Pallium, seorang Kardinal Imam akan mengucapkan doa lain untuk Paus baru, memohon kepada Allah untuk mendukungnya dalam misinya.
Seorang Kardinal Uskup kemudian akan melangkah maju dan mempersembahkan Cincin Nelayan, simbol resmi yang melambangkan hubungan paus dengan Santo Petrus dan panggilan untuk jadi “penjala manusia” (Mat 4:19). Secara tradisional terbuat dari perak, cincin ini dulunya berfungsi untuk menyegel dokumen resmi kepausan dengan lilin atau timah, meskipun sekarang berfungsi sebagai simbol kuat misi pastoral Paus.
Janji untuk Taat: Pendekatan Baru
Untuk pertama kalinya, perwakilan umat Allah akan berjanji untuk taat kepada Paus baru, bukan hanya sekelompok kecil Kardinal senior, yang mencerminkan visi sinodal Gereja. Dalam inagurasi sebelumnya, gestur ini diperuntukkan bagi enam Kardinal – dua dari setiap tingkatan (Uskup, Imam, dan Diakon) – yang menyatakan kesetiaan mereka atas nama seluruh Dewan Kardinal.
Ritus Penutup dan Sapaan Pribadi
Setelah Misa, Paus Leo XIV akan kembali ke Basilika untuk menyapa kepala negara dan pejabat tinggi, sebuah kebiasaan yang menyoroti peran Paus sebagai pemimpin spiritual global. Pada tahun 2013, rangkaian acara ini berlangsung lebih dari satu jam, dengan Paus Fransiskus berdiri untuk menyapa secara pribadi setiap pemimpin yang berkunjung, sebuah gestur diplomatik penting yang menggarisbawahi tempat unik Paus di panggung dunia.
Bapak Peter Suriadi

