“Ke dalam rumah mana pun kamu masuk, ucapkanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah tangga ini” (Luk 10: 5).
Lihatlah ajaran Yesus, dari mulut kita, kata-kata yang harus muncul pertama kali adalah kata damai yang jadi berkat untuk siapa saja, khususnya yang dijumpai.
Bayangkan, di setiap perjumpaan, pribadi-pribadi yang saling berjumpa itu membawa kedamaian. Hal itu tentu amat indah…
Kedamaian yang terwujud dan terekspresikan pada kata-kata dan tindakan kita yang memberikan dampak sangat positif. Sungguh, penerimaan dan kesatuan relasi yang hangat serta akrab.
Hal ini memudahkan kita untuk bisa berkembang dalam banyak hal. Tentunya melancarkan kita untuk melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi semua.
Berbeda suasananya, jika lingkungan kita tidak ada kedamaian yang tercermin dari sikap dan perilaku hidup mereka.
- Tampak dari karakternya yang tidak baik.
- Auranya negatif dan tidak memberikan semangat hidup.
Kemudian yang terjadi adalah pertentangan, perselisihan, dan bahkan perkelahian. Mudah marah, saling menghindar, dan bersikap cuwek tidak peduli. Kata-kata yang dihasilkan oleh kisah itu seperti memisahkan kita semua.
Itulah sebabnya, pada saat dalam perjumpaan yang pertama itu, Yesus menyampaikan salam perdamaian.
Jika damai itu diterima dengan baik, maka akan jadi pondasi yang baik untuk membangun persaudaraan.
Apalagi, jika bisa dijamu dengan baik, muncullah doa ini, “bless the food before us, the family beside us and the love between us.”
Semuanya terasa nikmat: makanan dan minumannya, pribadi-pribadinya dan suasananya.
Sahabat, mari kita ciptakan suasana seperti ini, suasana yang penuh kedamaian, di tempat dan di lingkungan, dimana kita saat ini tinggal dan diutus. Kata-kata damai itu dimulai dari lidah kita yang cinta damai.
Rm. Petrus Santoso SCJ

