Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tempora mutantur et
nos mutantur in illis”
(Waktu berubah dan kita
pun berubah karenanya)
(Ovidius)
Seruan Ovidius ini bertolak dari sebuah realitas, bahwa memang riil adanya suatu perubahan. Oleh karena itu, kita perlu turut berubah agar tidak ketinggalan zaman.
Mari Cermatilah Kisah Berikut
Pernahkah Anda mendengar sepotong nama Eassy Eddy (EE), seorang pakar hukum yang sangat terkenal pada tahun 1920-1930-an? Ia sangat piawai dalam membela klien-kliennya, bahkan sampai-sampai ia direkrut oleh Al Capone, penjahat kelas kakap pada zaman itu. Kepiawaiannya selalu berhasil membuatnya mampu membebaskan kelompok mafia ini dari semua kejahatan yang mereka lakukan. Mulai dari pemerasan, peredaran narkoba, hingga pembunuhan sekalipun.
EE mempunyai seorang anak laki-laki yang tinggal bersamanya di sebuah rumah mewah. Al Capone memberikan apa saja kebutuhan hidup yang melimpah kepadanya. Hingga suatu hari EE berpikir, “Apakah kekayaan ini benar-benar dibutuhkan anak untuk saya wariskan? Bisakah anak saya bangga menyandang nama saya dengan kekayaannya ini?”
Setelah berpikir panjang, maka ia berpendapat, bahwa hal yang harus diwariskan kepada anaknya yang tidak lekang dimakan waktu adalah “the legacy of a good name.” Maka, ia segera berbalik haluan, membuang seluruh kekayaan duniawi itu, dan mulai mendidik anaknya untuk jadi pahlawan kemanusiaan. Nyata, bahwa putranya itu kemudian sangat terkenal di dunia penerbangan Amerika, “Butch O Hare,” sang gagah perkasa yang dianugerahi medali “Us Congressional Medal of Honour.”
Semua kehebatan itu justru berawal dari pendekatan pendidikan yang mengutamakan pendidikan katakter dalam keluarga dan masyarakat.
(Dari Berbagai Sumber)
Pendidikan katakter itu model pendidikan yang mutlak bagi pembentukkan kepribadian manusia dari generasi mana pun. Ada pun fokus dari pendidikan katakter adalah menyentuh dimensi ranah kemanusiaan. Dia bersentuhan langsung dengan hati nurani seorang anak manusia. Itulah yang disebut sebagai proses ‘homo humanus’ alias proses pemanusiaan manusia.
Manusia Ideal di Zaman Mileneal
Manusia ideal identik dengan manusia yang memiliki sejumlah kecerdasan utama. Kini dunia kita merindukan sosok maha hebat yang memiliki sejumlah amunisi kokoh kuat: cerdas intelektual (IQ), cerdas emosi (EQ), dan cerdas spiritual (SQ).
Dari manakah datangnya aneka kecerdasan itu, jika tidak diproses lewat arena edukasi?
Bagaimana pendekatan proses edukasi yang mengutamakan anak di zaman mileneal? Dengan melibatkan ragam aspek perkembangan peserta didik, seperti mengembangkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai suatu yang holistik.
Untuk itu, proses pendidikan katakter harus jadi sebuah gerakan moral yang bersifat holistik pula. Maka, orangtua dan warga masyarakat bukan sebagai penonton dan lembaga pendidikan formal (sekolah) bukan sebagai penanggung jawab utama. Mengapa? Karena ruang gerak pendidikan karakter adalah suatu proses pembudayaan hal-hal baik yang justru bermula dari dalam keluarga dan masyarakat serta kelak dilanjutkan di lembaga sekolah. Itulah sebabnya, ketiga komponen itu perlu bersama bahu-membahu.
Dari generasi yang berkarakter, maka akan lahirlah sebuah bangsa yang berkarakter pula.
Kediri, 17 Mei 2025

