Simply da Flores
1.
Pada mulanya ada dan terjadi
Aku tidak meminta hadir di sini
di Tanah Papua sebagai Bunda Kasuari
memiliki aneka marga satwa dan hutan rimba belantara
Menyimpan aneka kekayan alam berlimpah
Melahirkan anak cucu generasi
suku bangsa asli Papua
Dikawal Panglima Cenderawasih penuh pesona
“Surga Kecil yang jatuh ke bumi”
Sama seperti semua suku bangsa lain di Nusantara dan dunia
Kami juga ciptaan Sang Maha Ilahi
Kita sesama saudara manusia dan ciptaan semesta
Kita memiliki harkat martabat dan hak asasi
untuk hidup saling melengkapi
dengan kasih sayang persaudaraan
Bukan perang dan saling menghabisi
2.
Para tete moyang ditakdirkan Pencipta
Lahirkan anak cucu generasi
dalam berbagai suku dan wilayah adat
Menghuni gunung lembah sungai muara
menguasai tempat dan dihidupkan alam lingkungan
Melukis sejarah kisah suka duka
antar kelompok dan suku
antar wilayah adat dan dengan dunia luar pulau
Mendiami Negeri Pantai Pasir Putih
Papua Tanah Terjanji dari Sang Ilahi
Maka
Orang asli Papua sungguh manusia sejati
dengan harkat martabat setara
dengan semua suku bangsa manusia di dunia
3.
Sejarah modern datang menghampiri tanah Papua ini
Manusia dari luar pulau injakan kaki menjumpai kami
dengan anak-anak pikiran dan tujuan pribadi
Ada yang memang jadi sesama saudara
Ada yang sekadar datang melihat dan mengagumi
Tetapi
ada yang datang jadi pembasmi kami
demi merampok kelimpahan sumber daya alam
Maka segala cara dihalakan
iptek, senjata dan kuasa digunakan
Kami mulai lara menderita hingga kini
Alam terus dikoyak dan dikuras
Anak generasi terluka, kering air mata dan mati terkapar
“Lara merana di tengah kelimpahan”
4.
Karena masih kurang pengetahuan dan terbatas pengalaman
Kami dicap bodoh, kuno, terasing dan bukan manusia
Lalu dipaksa ucapkan kemerdekaan
dengan segala macam cara dan sarana
Semua mampu merangkai kata-kata sakral dan indah
dengan relasi luas dan aneka taktik
Maka kami galau terombang-ambing
dalam semua yang mengaku benar, baik dan bermartabat
Bahkan atas nama Sang Pencipta
kami terpecah belah dan saling bermusuhan
agar mudah dikuasai dan dihancurkan
Sedangkan sumber daya alam terus dicaplok dengan aneka alasan luhur dan bermartabat
“Demi kemanusiaan yang adil beradab berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”
5.
Di tanah Papua yang kaya raya ini
justru sejarah kami generasi pewarisnya
Ada yang terus lara menderita dan mati
Ada yang terpaksa lari meninggalkan kampung halaman ke negeri orang
Ada yang masuk hutan dan berjuang merdeka
Ada yang ikut NKRI dan berjuang membangun daerah
Ada yang kebingungan menentukan sikap pribadi
Dan
sejarah suka duka orang asli Papua
terus lahirkan jurang perbedaan dan perpecahan
Agar sumber daya alam terus dikuras
Banyak hal baik yang sudah dibuat
segera sirna terbakar amarah dan perang
Anak cucu yang lahir terus galau
entah ke mana nanti nasib mereka
Apakah kebenaran hanya milik yang punya kuasa, senjata dan harta
6.
Ada serpihan harapan berkedip
di zaman digital milenial ini
Bukan soal siapa salah dan benar
Bukan soal siapa kuat dan lemah
Tetapi
Adakah membersit cahaya fajar kebenaran
Adakah membias fajar keadilan
Bahwa
Benar itu memang benar
Salah itu memang salah
atas nama Keagungan Sang Maha Cinta
Kekudusan Sang Maha Pencipta
yang menghadirkan kami orang asli Papua
di Bumi Kasuari Tanah Cenderawasih
di tanah Papua yang kaya raya ini
Kami juga sungguh manusia
yang membutuhkan keadilan dan damai
yang punya harkat martabat untuk diakui dan dihormati
Agar kita hidup sebagai sesama saudara
dengan harmoni kasih sayang
untuk saling melengkapi karena saling membutuhkan
7.
Di zaman digital milenial ini
dengan sarana iptek informasi canggih
Masihkah ada jalan dialog damai
tanpa harus saling menunjuk kesalahan dan membunuh
Mengapa kami harus terus lara menderita dan dibantai
sedangkan sumber daya alam terus dikuras dan dirampok demi kesejahteraan kalian saja
Wahai segenap pemimpin dunia
benarkah ini kemerdekaan dan keadilan
Inikah penegakan hak asasi manasia
dengan mengangkat menteri HAM dari putera asli Papua
Wahai para tokoh agama
benarkah ini rencana dan kehendak Sang Pencipta
Apakah kami generasi pewaris Papua sungguh ditakdirkan terlahir untuk jadi korban senjata di tanah ini
Jawablah kami hai segenap manusia
Sampai kapankah balada ini berakhir?

