Simply da Flores
1.
Sudah sekian purnama berlalu
kita menatap warna air sungai menjelma
Telah sekian mentari berganti
sampan kita menulis di tepi
Angin seberangkan rindu hati nurani Waktu menjawab damba jiwa sanubari
Mengapa sungai mengalir tak pernah berhenti
Pernahkah kita meraih mata air hulunya
dan akankah kita menggapai muaranya
2.
Pernah aku mencatat berapa mimpi
mendayung sampan mencapai muara sungai
lalu bertemu pantai dan melihat samudra
Engkau pun pernah bercerita
diajak berkelana melintasi hutan belantara
menyusuri sungai sampai ke hulunya
Saksikan mata air memancar dari batu padas
di kaki bukit dan gunung tinggi
3.
Ada tanya mengalir siang malam
ketika sampan dan dayung melintasi sungai
Pada air aku malu tanyakan
Pada angin aku cuma bisikkan
Pada langit aku hanya menatap
Pada diriku tak berani aku katakan
Akankah mimpi kita jadi kenyataan
Apakah ini hanya mimpi atau angan yang akan jadi fakta?
4.
Duduk di tepi surutnya sungai
pada senja umur yang berlari
air sungai terlihat makin surut
tidak seperti saat bocah dahulu
Kudengar cerita lara di pegunungan
hutan belantara terus dibabat
ada beberapa tambang mengoyak perut bumi
banyak warga telah tergusur dan hilang
Sepanjang bantaran sungai makin banyak sampah
di muara pun sudah tertutup bagi nelayan
Tidak banyak informasi di dunia maya
karena tempat ini terpencil dari keramaian kota
dan memang kami gagap teknologi
5.
Ada kecemasan mulai menggerogoti rasa
jangan sampai kami pun akan tergusur
karena banyak orang baru semakin pergi datang ke wilayah ini
Zaman terus gencar berubah
jarak dan dekat ruang makin mudah diterjang
oleh mereka yang bermodal dan berilmu
apalagi didukung yang punya kuasa dan senjata
Kebodohan dan kurangnya informasi
serta keterbelakangan dan minimnya relasi
bisa membuat merana di tengah kelimpahan
bahkan lara merana menunggu punah
digilas roda zaman yang menderu
6.
Lamunan di tepi sungai terhentak
ada speedboat melaju di tengah sungai
sedangkan sampan kayu yang lapuk diam terpaku
Kisah bocah-bocah kampung kemarin
sering terlihat pesawat tanpa awak
melintas dan berputar di bukit dan gunung
entah siang atau malam
makin mengusik pikiran dan nasib
Rupanya zaman begitu cepat berubah
dan nasib kami di kampung udik tertinggal jauh
7.
Kami berharap pada sungai dan hujan
zaman milenial jualan air kemasan aneka merek
Kami hadapi alam memohon rezeki
tetapi kaum modern mengoyak alam untuk harta dengan iptek
Kami bermimpi alam lestari bagi anak cucu
tetapi zaman milenial mewariskan data digital bagi generasi
Padahal
nafas masih tergantung pada udara
Segala kebutuhan diambil dari sumber daya alam
yang terbatas dan makin kritis
bagi manusia yang meledak jumlahnya
8.
Antara mimpi tradisi di dusun udik
sungguh berbeda dengan derap gelora zaman digital
Kami di dusun tradisi mendayung mimpi
di pelukan hutan dan rahim sungai
Tetapi generasi milenial berlomba ciptakan fakta di dunia maya
dan harapkan masa depan dijamin iptek digital
karena ada damai Surga abadi bagi selera
dengan supernya kecanggihan pikiran
Benarkah harmoni tercipta ketika jasmani terpisah dari rohani
dalam pribadi manusia
Masih pedulikah manusia pada totalitas hakikat dirinya?
9.
Sungai mengalir perlahan dikepung lumpur
tanya dan galau merasuk nalar
Masihkah cinta membias untuk harkat martabat hakikat jadi diri
Adakah damai bersemi di antara drone roket dan senjata nuklir
yang dikendalikan robot iptek digital?
Asap dupa dan nyala lilin ritual
doa samadhi dan mantra sakral
terus jadi andalan bagi kami komunitas tradisi
Tetapi…
gemuruh gemerlap zaman iptek digital milenial
terus berkilau kuasai jiwa raga generasi
Ada perang prinsip, nilai, aturan dan kebutuhan
terus berkobar dalam jiwa raga
Mungkin hanya Sang Waktu yang tahu jawabannya
lalu nyatakan rencana kuasa kasih-Nya

