Simply da Flores
Kado untuk Pentahbisan Uskup Timika
1.
Angin membawa kabar berita
dari Timika Papua ke Roma
dari Tanah Surga ke seluruh dunia
Bahwa
ada seorang putera orang asli Papua
terpilih dan ditahbiskan jadi hamba
untuk melayani umat sebagai Gembala
Seorang Uskup dalam Gereja
korbankan jiwa raga karena cinta
dipilih dari bangsanya yang lara menderita
Demi taat setia kepada Sang Pencipta
2.
Seorang pewaris pesona cenderawasih
Putra Asli Bunda Kasuari
terlahir di tengah kelimpahan kekayaan alamnya
Namun…
justru lara nestapa menderita
karena diperebutkan digusur dan ditindas
Kisah cerita lara derita bersemi
Harkat martabat terkoyak hancur berkeping
Air mata luka darah dan duka
Entah sampai kapan sirna
3.
Cederawasih burung surgawi
hadir mengawal kelimpahan kekayaan alam Papua
Kini galau merana kebingungan
karena sering diburu dan dibunuh
Agar jadi hiasan kebanggaan manusia
Agar jadi suvenir barang dagangan
Dipakai di kepala penuh kepongahan
tetapi hutan habitatnya terus dibabat
Dan
para pewarisnya pun galau merana
tak berdaya harkat jiwa raga
4.
Serpihan rindu Cenderawasih
nyanyikan syair balada hati nurani
alunkan ayat simfoni duka sanubari
Dari Timika ke gunung dan lembah
merangkul segenap putra-putri fajar
“Kami marga satwa dan flora tergusur
Kami hutan rimba digundulkan
Kami perut bumi dikoyak dan dikuras
Di mana orang asli Papua hidup
Ke mana anak generasi Papua berharap
Inikah kemerdekaan itu
Apakah ini rencana kehendak Ilahi?”
5.
Serpihan rindu Cenderawasih
berkubang di kolam limbah tambang
Butiran puing damba Kasuari
terhimpit di antara bajir lumpur
Datang mencium kakimu Sang Gembala umat
“tolong lihat dan perjuangkan nasib kami”
Hadir menadahkan jemari ke wajah Gembalamu
“suarakan harkat martabat kami pewaris Papua
Apakah terlahir di tanah ini
untuk jadi sasaran peluru dan korban kerakusan
Haruskah merana dan mati di tengah kelimpahan?”
6.
Cenderawasih yang galau berbisik lirih
“Wahai para hamba pelayanan umat
yang berkumpul persembahkan doa
yang hadir di Timika tahbiskan Gembala umat
Katakan kepada dunia agar mendengar
hak asasi dan harkat martabat kami
segenap generasi pewaris tanah Papua
Kami juga manusia sejati
yang punya martabat dan hak asasi
Kami juga perlu keadilan dan damai
sebagai sesama saudara
yang sungguh manusia merdeka
untuk hidup bersama dengan cinta harmoni”
7.
Kepadamu segenap pewaris Papua
dan semua yang menghuni tanah ini
Ada tanya tak bertepi mengusik
“Mengapa yang membutuhkan guru dan sekolah
justru diberi senjata dan peluru
justru guru tertembak dan sekolah terbakar
justru beredar narkoba miras dan prostitusi
Sedangkan pembabatan hutan dan tambang makin marak
aneka program nasional terus gencar dilakukan
dengan beberapa pemekaran wilayah pemerintahan daerah
8.
Kepadamu para Gembala umat
juga berbagai media informasi digital
Jawablah tanya dan galau kami yang tak bertepi
“Mengapa terlahir berbagai kelompok pemberontak dan mendapat beragam stigma
Masih adakah jalan komunikasi dan dialog damai?
Apakah masalah harus diselesaikan dengan membuat masalah baru
Sampai kapan lara derita ini bertepi?”
Ada serpihan rindu dan sepotong damba
kami mohonkan kepadamu para Gembala umat
“Dalam ritual doa sakralmu
titipkan serpihan rindu nurani kami
yang terus lara nestapa
Dalam tugas kegembalaan sucimu
sendengkan telinga bagi damba sanubari kami
yang galau dan merana di tengah ketidakberdayaan”

