“Menghidupi komunikasi dua arah yang baik dengan anggota keluarga agar kita tidak asing di rumah sendiri.” -Mas Redjo
Sejatinya peristiwa yang terjadi itu tidak harus disesali, tapi lebih bijak disyukuri dan dimaknai agar kita mengambil hikmat Tuhan.
Tidak ada kata terlambat, apalagi sulit, asal kita mau membuka hati untuk merendah, mengalah, berubah, dan memperbaikinya.
“Apakah jalan itu masih terbuka untukku?” keluh ML lirih, dan ragu. Wajahnya kuyu tanpa gairah.
“Dicoba dulu, itu konsekuensi dan resiko dari suatu keputusan,” kata saya menenangkan hati ML.
Sejak semula saya mengingatkan ML, ketika ia ingin menikahi gadis yang beda agama. Ia keukeh dan nekad dengan pendiriannya, meski harus mengingkari imannya. Bahkan imannya mengambang, karena tidak memilih dan menjalani satu di antara keduanya.
Penyesalan itu datang, ketika istri ML meninggal, dan ia mulai sakit-sakitan. Ia insyaf dan ingin kembali ke iman semula. Tapi tidak ada anaknya yang mau mengantar ke Gereja. Bahkan mereka bersikap cuwek dan tidak peduli padanya. Ia ragu dan takut, jika nekad bakal ditelantarkan dan disia-siakan oleh anaknya.
Di sisi lain, hidup tanpa pegangan iman itu membuat ML tidak tenang. Hatinya selalu risau dan tiada damai. Bahkan ia merasa asing di tengah anak-anaknya sendiri.
“Saya harus bagaimana, Bro?” keluh ML seperti ditujukan pada diri sendiri.
Saya diam, tapi memahami hatinya yang sedih nyeri. Karena tempo hari ML sulit diberi saran dan diingatkan, sehingga saya jarang berhubungan dengannya lagi.
Komunikasi dalam Kerendahan Hati
Kini, ketika saya mudik ke kota K dan mampir ke rumah ML, kisah sedih miris itu dikemukakannya.
Sebagai sahabat, bahkan beberapa kali ia menolong keluarga saya, hati ini jadi tergerak untuk mencarikan jalan ke luar yang terbaik untuknya dan keluarganya.
Saya akan berbicara dengan anak-anaknya. Tidak ingin mencampuri urusan keluarga, tapi saya mau bicara dari hati ke hati, membangun komunikasi yang baik. Hak saya tidak lebih adalah memberi saran, mengingatkan, dan mendoakan untuk kebaikan semuanya.
Saya ingin mencari kejelasan dari anak ML. Yang disampaikan ML ke saya itu benar, atau ketakutannya sendiri. Karena beragama itu hak setiap individu agar kita saling menghargai dan toleransi. Apalagi ML adalah Ayah dari anak-anaknya yang harus dihargai dan dihormati, meski pernah bersalah atau keliru.
Jika kisah ML itu benar, saya akan menghubungi pengurus Lingkungan agar diteruskan ke Gereja untuk pembaharuan janji baptis ML. Saya juga mohon pengertian pada anak-anaknya tentang keadaan Ayah mereka.
Bagi saya, ML harus dicarikan jalan yang terbaik dan demi keselamatan jiwanya. Karena saya dipilih dan diutus-Nya untuk mencari mereka yang menjauh, tersesat, atau hilang agar selamat.
“Ada sukacita yang lebih besar di Surga atas 1 orang berdosa yang bertobat daripada 99 orang benar tidak memerlukan pertobatan” (Luk 15: 7).
“Tuhan, terjadilah semua itu seturut kehendak-Mu,” bisik saya lirih untuk berserah ikhlas.
Mas Redjo

