Awalnya bertanya saja foto doa-nya mana? Jadi berlanjut pada kehadiran umat dalam Doa Rosario 2 Sabtu terakhir.
Ingat ungkapan ‘sing tuku ora teko-teko, sing teko ora tuku-tuku’ dalam Bahasa Jawa berarti yang membeli tidak datang, yang datang tidak beli. Ungkapan ini tentang apa? Kondisi antara harapan dan kenyataan. Inginnya ‘regeng’ nyatanya ‘nyenyet’. Dulu ramai sekarang sepi. Sekilas gambaran Doa Rosario di lingkunganku dulu dan sekarang. Kisaran hadir 50-60 (2023) ke 35-50 (2024) ke 20-25 dalam dua Sabtu 2025).
Tradisi Doa Rosario yang Memudar
Benarkah memudar? Ya, ada indikasi, bahwa tradisi berdoa Rosario mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Meski masih cukup banyak umat yang setia berdoa Rosario, ada juga yang merasa kesulitan atau kurang tertarik untuk melakukannya.
Mengapa? Mereka yang ‘ora teko’ itu yang dapat menjawab. Tapi ‘ora teko-teko’ dan ‘sing teko loe lagi loe lagi’.
Rasa ingin ‘ngaruhké‘ juga ikut memudar .
Harapan ‘regeng‘ dan ‘guyup‘ seperti dulu adalah doa kami, ya Bunda. Seperti kidung Sabtu lalu, “mboten kuwatos, awit Ibu njangkung tansah.”
Salam sehat.
…
Jlitheng

