“Tuaian banyak, tapi pekerjanya sedikit. Fakta itu yang membuat hati ini jadi sedih dan miris.” -Mas Redjo
Bagaimana hati ini tidak miris? Karena di Hari Minggu Panggilan Sedunia ini tidak banyak orang muda yang terpanggil untuk hidup membiara; jadi biarawan-biarawati. Padahal tuaian melimpah.
Begitu pula di Kerawan (Kerasulan Awam). Estafet kepemimpinan itu seperti mandeg. Banyak umat yang menolak, ketika ditawari atau dipilih untuk aktif di pengurus lingkungan Gereja.
Banyak alasan dikemukakan oleh mereka. Di antaranya adalah tidak siap, sibuk bekerja, pulang malam, dan sebagainya.
“Menurut saya, salah satu faktornya kaum muda kurang tertarik masuk biarawan biarawati atau aktif di Gereja adalah kepedulian orangtua yang makin menipis memaknai arti panggilan hidup Kristiani,” Pak SS mensyeringkan pengalamannya. Meski usianya telah kepala tujuh, tapi beliau tetap aktif dan enerjik.
Menurut beliau, kepedulian dalam keluarga itu harus dihidupi sejak dini agar mengakar kuat di hati anak-anak. Mereka diajak aktif dan terlibat di bina iman anak, remaja, Putra Altar, OMK, dan seterusnya. Mereka juga harus dibina, didukung, dan didampingi agar tidak merasa berjalan sendirian.
Faktanya, banyak orangtua yang hilang kepeduliannya dengan pertumbuh-kembangan iman anak. Orangtua asyik dengan dunia dan kesibukannya. Anak-anak dilepas dan berjalan sendiri. Bahkan minus kontrol untuk ‘aruh-aruh’, karena komunikasi dalam keluarga yang kurang baik, atau mandeg. Sedang anak-anak asyik berkomunikasi dengan hp sendiri.
Sejatinya regenerasi kepengurusan di Gereja itu tidak hanya penting, tapi mendesak untuk ditindaklanjuti. Saatnya kaum mudah terlibat aktif untuk berperan serta, karena masa depan Gereja berada di pundak mereka.
Sebagai orangtua, kita dapat belajar dari semboyan Ki Hajar Dewantara, “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.” Artinya, Di depan memberi teladan, di tengah-tengah membangun semangat, dari belakang memberi dorongan.
Sungguh karunia luar biasa. Kita sebagai umat Kristiani mempunyai Yesus, Gembala yang baik hati untuk diikuti dan diteladani agar kita mampu meneruskan tugas penggembalaan-Nya di dunia.
“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku” (Yoh 10: 27-30).
Tuhan memberkati.
Mas Redjo

