Oleh Peter Suriadi
Seorang Imam yang ditahbiskan menjadi Uskup, dan kemudian diangkat jadi Kardinal, memiliki logo resmi. Logo ini biasanya tetap digunakan, ketika ia terpilih jadi Paus, meskipun ia dapat memilih untuk mengubahnya. Tiga Paus terdahulu menggunakan logo yang pada dasarnya sama dengan logo yang telah mereka miliki sebelumnya.
Paus Leo XIV menggunakan logo yang sama dengan yang dimiliki saat ia jadi Kardinal. Logonya terdiri dari perisai yang terbagi jadi dua sektor, yang masing-masing membawa pesan mendalam.
Di sektor kiri perisai, dengan latar belakang biru, terdapat bunga lili putih yang dibuat bergaya, lambang tradisional kemurnian dan ketidakberdosaan. Karena sering dikaitkan dengan Perawan Maria, bunga ini langsung membangkitkan dimensi Marian dalam spiritualitas Paus Leo XIV. Bukan sekadar panggilan bakti, melainkan indikasi yang tepat tentang sentralitas yang ditempati Santa Perawan Maria dalam jalan Gereja: model mendengarkan, kerendahan hati, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.
Di sektor kanan perisai, pada latar belakang putih, digambarkan Hati Kudus Yesus, tertusuk anak panah dan terletak di atas buku yang tertutup. Hal ini mengacu pada salah satu fitur utama logo Ordo Santo Agustinus (OSA), ordo tempat ia jadi anggotanya.
Midwest Augustinians memberikan deskripsi tentang lambang hati: “Hati yang menyala-nyala adalah hati manusia. Ia melambangkan cinta Agustinus kepada Allah dan sesama saudara dan saudarinya. Hati Augustinian penuh dengan gairah, dengan keinginan untuk mengenal Allah dan mengalami cinta Ilahi dalam hidup kita.”
Lambang buku tersebut, baik yang terbuka maupun yang tertutup, mengandung makna lain. Buku melambangkan Kitab Suci dan pertobatan Santo Agustinus ke dalam agama Kristen serta Sabda Allah, sumber terang dan kebenaran, dan pencarian kebijaksanaan. Pertobatan Santo Agustinus terjadi, ketika sebuah suara memerintahkannya untuk ‘mengambil dan membaca’ Kitab Suci.
Terakhir, anak panah ‘yang menembus jantung melambangkan Roh Allah yang menembus hati kita, memanggil kita untuk terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih’. Hal ini ditegaskan lebih lanjut dalam Konstitusi Ordo. Kata-kata pembukaan Peraturan Santo Agustinus memberi kita arahan: “Kita harus sehati sepikiran dalam perjalanan menuju Allah. Kita adalah para musafir yang berziarah bersama, di mana Kristus adalah sahabat tetap kita, serta jalan dan tujuan kita.”
Aktivitas perjalanan kita dibentuk oleh pengalaman dan nasihat Agustinus dan bercirikan tiga unsur penting: pencarian terus-menerus akan Allah melalui kehidupan batin yang mendalam, cinta kasih yang nyata terhadap sesama, dan pencarian kebenaran yang terus-menerus.
Logo tersebut mengingatkan kita pada kata-kata Santo Agustinus yang tertulis dalam bukunya “Pengakuan-pengakuan”: “Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai kami beristirahat di dalam diri-Mu.” Sebuah spiritualitas yang kuat, yang juga mencerminkan pencarian makna hidup masa kini.
Paus Leo, yang dalam pidato pertamanya mendefinisikan dirinya sebagai “Putra Santo Agustinus,” akan berangkat selama masa kepausannya untuk menemui semua orang yang mencari Allah dengan sudut pandang Agustinian.
Di bawah perisai tertulis semboyan yang dipilih Paus Leo XIV “In Illo uno unum”. Semboyan tersebut diambil dari ulasan Santo Agustinus tentang Mazmur 127, yang merangkum inti pesannya: “Di dalam Dia yang satu, kita adalah satu.”
Kata-kata ini mencerminkan sebuah Gereja yang bersatu dalam pikiran dan hati melalui pengakuan akan satu iman sejati, terlepas dari perbedaan dan ketegangan yang tak terelakkan merasukinya dalam dimensi manusiawinya.
Ungkapan persekutuan yang didasarkan dan ditemukan dalam kasih Kristus, yang memungkinkan persaudaraan dan rekonsiliasi bahkan dalam konteks yang paling rumit sekalipun.
Bukan suatu kebetulan, bahwa dalam sambutan pertamanya kepada Gereja dan dunia, Paus Leo XIV berbicara tentang hal ini: tentang Gereja sebagai jembatan, yang dipanggil untuk mengatasi perpecahan, memberi ruang bagi perjumpaan, mendengarkan, dan belas kasih.
Pada akhirnya, melalui logo dan motonya, Paus Leo XIV menawarkan sebuah visi tentang Gereja yang misioner dan Marian, yang berakar dalam kasih Yesus Kristus dan setia kepada Injil.
Gereja yang bersedia menderita dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk melayani umat Allah, menyadari, bahwa hanya dalam kesatuan dengan Allah segenap perbedaan dapat menemukan keselarasan.
Bapak Peter Suriadi

