Simply da Flores
1.
Hujan mengguyur sejak awal malam
mungkin itu tangisan senja
Namun
hiruk pikuk metropolitan tetap berjalan
Aku berteduh di halte bis kota
banyak kendaraan menerjang hujan
demi tagihan tugas dan kebutuhan
Kilau cahaya lampu kota gemerlap
untuk kehidupan zaman digital
Ada yang sudah lelap tertidur
Tak tahu yang di kampung udik
apalagi jika belum ada listrik
Wajah negeri beraneka ragam
dalam rupa fisik
apalagi soal nasib dan nurani jiwa
Hanya pribadi yang tahu apa faktanya
Hanya diri kita bisa kisahkan pengalaman
Hanya jiwa raga yang putuskan pilihan untuk bersikap
di tengah arus zaman dan derasnya hujan pancaroba kehidupan
Saya mau jadi apa dan siapa?
2.
Kulihat bulan sabit melerai gerimis
berjalan perlahan lewati puncak menara gedung bertingkat
Mungkin sedang memantau geliat anak-anak zaman
merenda nasib menenun waktu
Beberapa gelandangan menepi di emperan
Tetapi…
sekonyong wajah bulan sirna berkeping-keping
ditikam sambaran cahaya petir
diringi deru kemarahan gemuruh guntur
Metropolitan kembali diguyur hujan deras
mungkin meluas ke mana-mana
dan nanti sepanjang malam gulita
Aku terpaksa segera kembali
karena malam makin kelam larut
diguyur hujan yang kian lebat
tak tahu kapan akan surut
Karena pancaroba cuaca sedang terjadi
merebak di berbagai belahan sudut bumi
Galau bagi jiwa raga insani
bagaimana menghadapi pancaroba zaman ini
dengan kilau pesona zaman digital milenial
3.
Bulan sabit tertikam api petir
cuaca pancaroba terus berkobar
Jiwa raga insani galau berdebar
Kebutuhan terus menagih untuk dipenuhi
Manusia meledak bertambah banyak
sumber daya alam terbatas dan berkurang isinya
Prinsip dan nilai hidup terus berubah
aneka profesi dan cara terus dikreasi
Pertarungan samudra manusia semakin menggebu
di tengah pancaroba musim dan derap waktu
Mungkin…
pikiran manusia ikut kalut diubah amukan alam
Mungkin…
perasaan sedang diaduk musim yang geram
Mungkin…
hati nurani manusia diobok polusi alam lingkungan
Mungkin…
sanubari kita digugat hukum jagat semesta
Apakah perang bisa melahirkan damai
Adakah kesombongan mampu hasilkan keadilan
Mungkinkah kerakusan menguras isi alam memberikan harmoni hidup
Apakah memutlakkan selera dan otak akan menyelamatkan dan menyejahterakan manusia?
Masih adakah tempat bagi Sang Pemilik segalanya?
4.
Tiba di tempat tinggal dengan basah kuyup
karena hujan terus mengguyur alam senyap
Petir menyambar guntur menggelegar
Pasti tak tentu nasibnya gelandangan di emperan
juga mereka yang biasa dilanda banjir
Ada lagi yang mungkin terkena longsor
banyak jalan yang sulit dilalui
dan deretan nasib lara derita jadi kenyataan
Entah di metropolitan atau di kampung dan dusun
di berbagai sudut belahan dunia
Inikah takdir kehidupan bagi manusia?
Sedangkan…
mereka yang di gedung dan istana nyaman
dengan harta dan kekayaaannya
juga yang punya kuasa dan kewenangan
bisa menggelar kata di halaman sosial media
sambil menebar janji bagi yang tak berdaya
Padahal …
kebijakan mereka
menciptakan bencana alam
Padahal …
keputusannya lahirkan bencana kemanusiaan
Tak peduli amarah alam dan hukum semesta
karena hukum kreasi manusia bisa diatur
“Hukum nyaman bagi penguasa dan kejam bagi yang jelata tak berdaya”
Di manakah kuasa Sang Maha Adil?
5.
Bulan sabit tertikam api petir
jiwa raga galau dihentak amarah gemuruh guntur
Hujan peringatan hukum semesta terus mengguyur
Namun…
kerakusan nafsu segelintir orang terus tertawa terbahak
Kesombongan kuasa dan pikiran beberapa pemilik jabatan
terus berpesta rayakan kenikmatan
Kebutaan nurani jiwa pemilik harta dan senjata tetap berbangga
Karena dirinya adalah tuan atas alam dan tuhan bagi manusia
Mungkin…
inilah akar gejolak krisis ekonomi dunia
Mungkin…
inilah dapur iri dengki dan perang yang membara
Mungkin…
inilah banjir kisah fakta duka lara manusia
Mungkin…
inilah gelombang kata dan informasi sosial media
Maka…
ke mana lagi doa manusia harus berharap
Di manakah tempat aman damai bagi kehidupan
Siapakah diri kita dan mau ke mana zaman ini?
Adakah jawaban di samudra dan angkasa dalam roda Sang Waktu?

