Paulus seorang muda, terpelajar dan bersemangat. la sungguh percaya berjalan dalam kebenaran sesuai yang dia pelajari. Yesus, orang Nazaret dan para pengikut-Nya adalah sekelompok orang sesat yang mencemarkan kesucian agama Yahudi.
Paulus merasa terpanggil atas nama keyakinannya untuk membasmi para pengikut Yesus. Bahkan ia meminta pada Imam besar supaya melegalisir upayanya mengejar orang-orang Kristen dengan memberinya surat kuasa.
Namun demikian, Tuhan mengubah visi dan jalan hidupnya lewat sebuah perjumpaan, sapaan dan pernyataan: “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Saulus lalu bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?”
“Akulah Yesus yang kau aniaya itu.” Inilah perjumpaan yang tidak kuasa ditolak Saulus. la rendah hati dan memberi diri dibaptis Ananias. la berubah jadi Paulus, yang sungguh tinggal di dalam Yesus dan Yesus tinggal dalam dirinya, dan jadi Rasul besar pewarta Yesus Sang Roti Hidup, Putra Allah.
Pengalaman iman Paulus menunjukkan betapa Tuhan menjumpai dan memanggil sendiri orang yang hendak dipakai-Nya. Sementara mereka yang dipanggil sungguh terinspirasi untuk memberi seluruh diri dan mengubah visi dan jalan sesuai kehendak-Nya. Setiap orang beriman mendapatkan panggilan ini.
Mari kita belajar menanggapinya seperti Saulus yang jadi Paulus.
“Tuhan, kuatkan kami senantiasa supaya mampu menjawab panggiIan-Mu jadi pewarta kabar sukacita dalam kesaksian hidup setiap hari. Amin.”
Ziarah Batin

