Simply da Flores
…
1.
“Hai kau manusia, sekarang aku tanyakan padamu
mengapa engkau acuh dan sombong padaku
Padahal setiap saat aku bersamamu
Aku mendukung alat pernafasanmu
sehingga engkau mampu lakukan berbagai hal
Hidupmu berjalan karena aku
Mengapa untuk menyapa pun jarang
apalagi kau berterima kasih padaku?”
Aku kaget dan terdiam
seperti disambar petir siang bolong
Ketika angin menghentak aku dengan untaian kalimat itu
Ternyata udara yang digunakan alat pernafasanku
bukan hasil karya pribadiku
tetapi kuterima dalam alam ini
2.
Saat duduk di warung makan
agar bisa atasi lapar dan dahaga
Datang beberapa pihak mengepung aku
lalu dengan sinis menegur diriku
“Hai orang angkuh sombong
jangan banggakan uang di dompetmu
Bisakah kau memasak uangmu untuk makan
Mampukah uangmu alirkan air untuk minum dan mandi
Makan saja gadget dan kesombonganmu
Minum saja kendaraan dan gelar sekolahmu
Tunjukkan bahwa kau mampu hidup tanpa kami alam lingkungan ini”
Aku tertunduk diam dan malu
sadari kepongahan diri atas alam lingkungan
yang menjamin seluruh kehidupanku
Ternyata sering tidak menyadari kepapaan diriku
3.
Saat menyendiri di tepi hari
rebahkan galau di bawah rindang pepohonan
Ada suara berbisik lirih dihembuskan sejuk angin sepoi
“Hai saudara yang terhormat
sadarkah dirimu di pelukanku
Akulah debu tanah asalmu
Hidupmu di dalam pangkuan kasih sayangku
dengan segala isi alam lingkungan
Mati pun jasadmu akan kembali kepadaku
Pernahkah engkau tahu dan sadari itu
Sempatkah engkau siapkan waktu berterima kasih dan bersyukur
Adakah engkau peduli dan tanggung jawab setiap hari untuk menjaga dan merawat kami
Engkau hanya tamu dan menumpang
Bukan pemilik dan penguasa alam jagat ini?”
4.
Saat kembali ke tempat tinggalku
perlahan aku kembali ke dalam diri
Coba hening dan rasakan desah nafasku
Ternyata udara yang kugunakan bukan ciptaanku
dan tak mampu kubeli dengan uang
Apalagi aneka sumber daya alam lingkungan
untuk menjamin makan minumku
untuk penuhi aneka keperluan rumah dan lainnya
Semuanya diambil dari sumber daya alam ini
Bahkan diriku pun tercipta dari debu tanah
Wow…
sedemikian konyol kesombongan diriku
yang tidak mau tahu dan sadari ketergantunganku pada alam ini
yang jarang berterima kasih kepada semuanya
Apalagi bersyukur kepada Sang Pemilik kehidupanku dan alam semesta
5.
Laudato Si, pujilah alam semesta
Bukan hanya sebuah sapaan rohani dari seorang Paus Fransiskus
Laudato Si adalah panggilan hakiki setiap pribadi insani
Untuk tahu dan sadari kodrat pribadi
Untuk peduli dan mencintai harkat martabat
Untuk menghargai alam lingkungan sebagai saudara kehidupan dan sesama ciptaan
Untuk terus berterima kasih dan selalu bersyukur
Diriku dan alam semesta
adalah anugerah Sang Pencipta
adalah warisan cinta para leluhur
dan pinjaman kasih anak cucu
Maukah saya sadar dan mulai berterima kasih
Bisakah saya bijak bertanggung jawab dalam memakai sumber daya alam lingkungan?

