Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Urip iku mung mampir ngombe.“
(Adagium Bahasa Jawa)
Ini bukan Rumah Kita
Sudah merupakan sebuah pengalaman dan pemahaman, bahwa sesungguhnya kehidupan kita di dunia ini hanya bersifat sementara alias hanya sesaat. Mengapa? Bukankah dunia ini bukan rumah kita?
Seperti yang terungkap di dalam sebuah adagium arif berbahasa Jawa, “Urip iku mung mampir ngombe.” Hidup itu hanya laksana mampir untuk meminum secangkir kopi,” kiranya dapat mewakili seluruh kebenaran itu.
Panta Rhei
Lima ratus tahun sebelum kedatangan Kristus, filsuf Heracleitos telah merumuskan sebuah prinsip filsafati, “Panta Rhei,” yang bermakna, bahwa “Segala sesuatu itu akan mengalir dan berubah, tidak ada yang bersifat abadi,” alias semuanya tidak kekal.
Secara kronologi, setelah kedatangan Kristus, ternyata Dia menandaskan sebuah prinsip hidup yang sama, bahwa segala sesuatu itu bersifat sementara alias tidak abadi.
Bahkan dengan sangat gamblang Alkitab menuliskan, bahwa batas umur manusia itu tujuh puluh atau delapan puluh tahun, jika ia kuat. Hal ini bermakna, bahwa kehidupan manusia itu sungguh sangat terbatas.
Dari sudut ilmu filsafat dikatakan, bahwa barang siapa yang pernah dilahirkan ke atas bumi maya ini, satu kepastian yang akan dihadapinya ialah hal kematian.
Ibarat Sekeping Koin
Ya, kehidupan dan kematian itu, ibarat sekeping koin yang memiliki dua sisi berbeda, namun merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Maka, dapat disimpulkan, bahwa sungguh kita hanya sejenak berada di sini!
…
Kediri, 8 Mei 2025

