Hidup di zaman sekarang ini penuh kompetisi dan saling berebut kekuasaan. Mereka yang kuat menang, dan yang lemah tersingkir, terbuang, bahkan hilang. Sang pemenang menguasai yang kalah, sementara yang kalah itu menderita, terpinggirkan, dan tidak mendapat kesempatan hidup layak.
Situasi seperti ini tentu bukan hanya terjadi di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan secara umum, tapi juga jadi pengalaman keluarga-keluarga dan komunitas hidup menggereja. Ada umat yang merasa terbuang, tidak dilibatkan, dianggap, dan tidak dihargai serta ditinggalkan dalam perjalanan bersama komunitas beriman. Ada juga anggota keluarga yang merasa dirinya dibuang, tidak dicintai, dianggap tidak bernilai, dan tidak berhak hidup bahagia.
Keadaan seperti ini yang hendak dipulihkan Yesus Sang Roti Kehidupan. “Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.”
Yesus menghadirkan Kerajaan Allah untuk menyelamatkan semua orang. la sendiri jadi seorang yang terbuang secara manusiawi untuk menunjukkan solidaritas dan kasih-Nya kepada mereka yang merasa diri terbuang. la sendiri mengalami hidup sebagai anak seorang tukang kayu yang bahkan sejak peristiwa kelahiran-Nya, Ia sudah ditolak di rumah-rumah penginapan. la dimusuhi para pemimpin agama dan tua-tua agama Yahudi. la ditolak orang sekampung-Nya dan akhirnya wafat laksana orang terbuang di kayu salib.
Di dalam Yesus Sang Roti Kehidupan, kita yang kadang merasa terbuang, terpinggirkan, dan tidak berdaya menemukan damai dan sukacita.
Mari kita senantiasa bersama-sama datang kepada-Nya, supaya kita turut bersama menyelamatkan banyak orang yang terbuang dan hilang dari komunitasnya.
“Tuhan, kami sering merasa terbuang dan terpinggirkan dalam hidup. Kuatkanlah kami untuk selalu bersedia datang kepada Yesus yang akan memberikan damai dan kasih sayang. Amin.”
…
Ziarah Batin

