Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Berbahagialah orang yang sungguh-sungguh
mau mencari dan menemukan kesempurnaan hidup di
dalam dunia ini.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Mencari Orang-orang Bijaksana
Tatkala Anda sedang dirundung berbagai perasaan kecewa dalam hidup ini sebagai dampak dari ulah orang-orang munafik, maka ketahuilah, bahwa sejatinya, masih juga ada orang yang sedang berusaha untuk menemukan orang-orang bijaksana di atas bumi ini.
Upaya Simbolik Melarungkan Bunga
Seseorang yang sering terluka hatinya dalam hidup ini, di suatu hari membeli beberapa tangkai bunga dan melilitkannya pada selingkaran kawat. Dipahatkannya juga seuntai kalimat pendek pada lingkaran kawat itu. “Dicari sesosok pribadi bijaksana di atas bumi maya ini.”
Lingkaran bunga itu dilarungkannya ke dalam laut di dekat ujung sebuah dermaga.
Lima tahun berselang, ketika tanpa disengaja dia bertandang kembali ke dermaga itu, betapa terperanjatnya ia, karena lingkaran kawat itu tampak digantungkan orang pada sebuah tiang besi di bibir dermaga kenangan itu.
Namun, kini di sisi tulisan berukir yang pernah dibuatnya itu, tampak juga sebuah untaian kalimat lain, “Anda sendirilah orangnya.”
Menyaksikan pemandangan itu, betapa dia merasa sungguh terharu dan mulai bertanya di dalam hatinya, “Siapakah orang yang telah melakukan semuanya itu. Apa makna dari untaian kalimat baru itu?”
Sesaat dia terhenyak dan merenung di bibir dermaga itu. Betapa terperanjatnya ia, karena merasa ada seseorang yang sambil meragkul tubuhnya berseru, “Kami telah menemukan sang pencari kebenaran itu. Sosok itu adalah Anda sendiri.”
Dengan segera ia menoleh ke arah suara itu dan tampak seorang pria paro baya berjubah putih kumal dengan sebatang tongkat kayu di tangannya yang sedang menatap tajam padanya.
Dalam sekejap mata, maka semuanya sirna seketika. Dia berucap kepada dirinya sendiri, “Akukah si pencari kebijaksanaan itu?” Tapi, sungguh tidak ada sahutan di sana.
(Anonim)
Dengan sambil tergontai sendu ia kembali ke kediamannya. Di dalam hatinya selalu terngiang, apa makna dari semuanya ini?
“Akukah si sang pencari kebijaksanaan itu ataukah bukan?” Di sepanjang hidupnya, ternyata dia belum sanggup untuk menemukan makna sejati dari semuanya itu.
Tapi suara hatinya selalu berkata, “Apakah sebuah kebijaksanaan itu memang perlu dicari?” Tapi, di manakah ia berada?
Anda dan saya pun akan frustrasi menghadapi realitas kepahitan hidup ini sebagai buah dari kepalsuan hidup. Hingga kapankah Anda masih mau merindukannya?
Segera Sadarilah…
Jangan sekali-kali Anda mau mencarinya di lautan lepas di dekat ujung dermaga beton itu lagi. Dia tidak berada di sana.
Konklusi
Ternyata sang kebijaksanaan itu berada di dalam relungan nuranimu sendiri!
…
Kediri, 7 Mei 2025

