“Stop! Jangan pernah berdialog dengan si Jahat agar kita tidak diperdaya oleh bujuk rayunya.” -Mas Redjo
…
Mengingatkan diri sendiri itu baik dan bijaksana agar kita tidak jatuh ke jurang penyesalan.
Caranya adalah dengan selalu berpikir positif dan berprasangka baik pada sesama agar pikiran dan hati ini senantiasa dipenuhi rasa tenang dan damai. Sumbernya adalah Tuhan, lewat jalan hidup beriman, berdoa, berkata, dan berperilaku baik.
Setiap kali melintas hal-hal buruk dan jelek dalam pikiran ini, saya buru-buru mengikis dan membuang jauh. Saya tidak mau pikiran ini jadi kotor, dan dicemari si Jahat.
“Jangan pernah meladeni berdialog dengan si Jahat!”
Saya tidak sekadar mengingatkan diri sendiri, tapi langsung berbuat nyata. Yakni, lewat aksi menutup pintu hati dan menguncinya dengan rapat agar si Jahat itu tidak menggedor-gedor pintu dan berisik.
Mengapa hal ini harus segera dilakukan?
Si Jahat mempunyai seribu wajah dan rayuan mautnya itu semanis madu. Jika kita lengah sedikit, pasti dikunyah dan dijadikan budaknya!
Sebagai contoh, ketika kita dihina, disakiti, dan dikhianati oleh teman, kita diminta untuk membalasnya. Apalagi, jika kita merasa benar, dan tidak melakukan hal itu.
Ketika membalas perbuatan buruk itu berarti kita menuruti rayuan maut si Jahat. Apalagi, jika kita jadi membenci dan mendendam teman itu, berarti kita telah jadi budaknya.
Begitu pula, jika melihat teman yang maju dan sukses, kita tidak boleh iri, tapi harus memberi apresiasi. Kita ingin sukses seperti teman itu, ya, harus belajar keras dan berjuang pantang menyerah untuk mewujudkannya.
Hati-hati dengan pikiran, mulut, dan perilaku kita agar tidak jadi kepanjangan tangan si Jahat! Tapi balaslah perbuatan jahat dengan pemberian maaf dan kasih. Karena kita orang beriman yang disayang Tuhan.
…
Mas Redjo

