Masih tentang Paus Fransiscus, sosok saleh yang sangat dekat dengan Bunda Maria.
Seorang Muslim dari Kalbar, Rosadi Jamani namanya, memberi kesaksian, bahwa “Dia itu bukan sekadar figur suci di Altar-altar Agung. Ia adalah putra imigran Italia, yang tumbuh dalam kesederhanaan, menyelami dunia sebagai teknisi kimia sebelum memilih jalur Imamat, yang dicintainya sampai hembusan nafas terakhir.”
Pagi itu, terdengar tangis semesta yang muram, tanpa sinar. Langit Vatikan menggigil dalam bisu, seolah alam pun ikut berkabung. Dunia yang begitu gaduh sehari sebelumnya, mendadak sunyi, seolah menahan napasnya menyambut berita duka yang mengetuk pintu-pintu nurani manusia. Paus Fransiskus, Gembala Agung umat Katolik, telah wafat pada 21 April 2025 pukul 07.35 waktu setempat, dalam usia 88 tahun. Ia berpulang, setelah berjuang melawan komplikasi pneumonia ganda, penyakit yang perlahan menggerus tubuh ringkihnya. Namun ringkih tubuh itu tidak memadamkan cahaya kemanusiaan yang terus menyala dalam dirinya.
Saya, Rosadi, sebagai seorang Muslim, menunduk pilu. “Bukan hanya karena seorang pemimpin agama besar telah tiada, melainkan karena telah pergi pula satu jiwa langka yang tak segan merobohkan tembok-tembok perbedaan demi membangun jembatan kasih.”
Dalam lintasan sejarah, sedikit sekali manusia yang tetap berdiri tegak di tengah kemelut dunia dan berkata, “Damai itu mungkin,” dan “Who am I to judge” dengan keyakinan yang tidak goyah meski dunia terus berdarah.
Itulah Paus Fransiskus, yang bukan sekadar figur suci di Altar Agung. Ia adalah putra imigran Italia yang tumbuh dalam kesederhanaan, menyelami dunia sebagai teknisi kimia sebelum memilih jalur Imamat yang dicintainya sampai hembusan nafas terakhir.
Bunda Maria, Engkau dan Putera-Mu, Yesus, pastinya telah bersuka dengan Paus kami di Surga.
Salam sehat.
…
Jlitheng

