Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Anda terlahir sebagai
seorang manusia dan
bukan sebagai seekor
keledai.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Realitas Hidup Sosial
Sebagai makhluk sosial, kita justru hidup di atas planet bumi yang serba gonjang-ganjing ini. Di dalamnya kita tentu akan berjumpa dengan berbagai kelompok manusia dari aneka latar belakang dan budayanya.
Di dalam kebersamaan itu, tentu kita akan menjumpai tipe manusia yang memang sangat doyan untuk berdebat dengan mengobralkan argumen kosong dan tanpa ada dasar ilmiah. Jika Anda terpancing dan mau melayani orang dungu alias manusia keledai itu, maka sesungguhnya, Anda sudah terjebak di dalam kancah kedunguan mereka.
Jangan Berdebat dengan Keledai
Suatu hari, Keledai mendatangi Harimau dan dengan tegas dia mengatakan, bahwa rumput itu berwarna biru. Namun, Harimau itu menantangnya dan berkata, “Tidak, rumput itu berwarna hijau.”
Tapi, ia malah kembali dibantah oleh Keledai yang tetap berargumen, bahwa rumput itu memang berwarna biru. Karena perdebatan itu kian memanas, maka keduanya pun bersepakat untuk menghadap si Raja Hutan alias Singa.
Sesampai di depan takhta Raja Hutan, berkatalah Keledai, “Tuan, bukankah rumput itu memang berwarna hijau?”
“Ya benar,” sahut Singa. Sambil memandang kepada Harimau, maka berkatalah Keledai, “Nah, kini kamu sendiri telah mendengar kesaksian dari si Raja Hutan, bahwa rumput itu memang berwarna hijau kan?”
Lalu berkatalah Keledai kepada Singa, “Tuan, dia harus dihukum, karena kekeliruan dan kesalahannya, bukan?”
“Ya, tentu, dia harus dihukum,” jawab Singa.
Dengan lantang berserulah Keledai, “Hore, ternyata saya yang menang. Jadi, rumput itu memang benar-benar berwarna biru.”
Ketika suasana kian mereda, maka Harimau itu mendatangi takhta si Raja Hutan dan berkeluh, “Apakah benar bahwa rumput itu memang berwarna biru?”
Sahut Singa, “Ya, engkau benar saudara, rumput itu memang berwarna hijau. Tapi, aku dengan sengaja mau memihak Keledai. Mengapa? Karena aku sungguh sangat kecewa padamu. Sebagai makhluk yang cerdas dan pemberani, mengapa Anda justru mau membuang-buang waktu untuk melayani orang dungu itu?”
(Dari berbagai Sumber)
Ciri Khas si Dungu
Orang-orang cerdas dan waras sudah sering kali terjebak dan bahkan rela untuk membuang-buang waktu di saat berdebat dengan orang-orang dungu.
Dalam konteks ini, kecerdasan Anda justru telah tunduk kepada bujuk rayu si pandir untuk berdebat tanpa dasar dan argumen. Jika terjadi demikian, memang patut disayangkan.
Realitas di Sekeliling Kita
Lihat saja dalam realitas hidup harian di sekeliling kita. Betapa banyak orang dungu yang mau berorasi hanya demi memamerkan sikap picik dan fanatisme buta mereka.
Mereka sangat mudah untuk terpancing dan terbakar kadar emosinya, hanya karena alasan-alasan sepele. Mengapa bisa terjadi demikian? Yaitu sikap dan tindakan mereka sering kali tanpa dilandasi oleh sebuah esensi dasar dan didukung oleh argumen yang kuat.
Konklusi
Hendaknya jangan sekali-kali Anda mau berdebat dengan si dungu keledai!
…
Kediri, 4 Mei 2025

