*Tidak ada peristiwa di dunia ini yang terjadi secara kebetulan, tapi semua itu adalah ketetapan-Nya.” -Mas Redjo
…
Ainul yakin! Saya yakin seyakinnya. Tidak sebatas melihat peristiwa itu terjadi pada orang lain, tapi saya juga mengalami sendiri.
Jika Tuhan hendak mengambil atau memberi kepada kita, yang utama dan pertama adalah kesiapan hati kita untuk percaya, mengimani, dan mensyukuri itu sebagai anugerah-Nya.
Saya melihat peristiwa sedih miris pada seorang sahabat yang belum lama ini ditinggal suami tercintanya berpulang, alias meninggal dunia. Awalnya Ibu itu sakit dan opname. Setelah Ibu itu sembuh, suaminya gantian sakit lalu diopname, dan meninggal.
“Tugas saya berarti belum selesai,” Ibu itu mensyeringkan pengalaman imannya dalam suatu retreat. Ia lalu menjalani tugas rangkap, sebagai Ibu sekaligus Ayah bagi anak-anaknya.
Lewat pengalaman Ibu itu, saya melihat pemaknaan iman dan rasa syukur untuk menerima kenyataan pahit itu sebagai anugerah Tuhan. Ibu itu tabah, sabar, dan hidup yang dijalani penuh syukur serta rendah hati.
Ketika hidup ini selalu disyukuri sebagai karunia kasih Tuhan, hidup kita serasa dimudahkan dan lancar jaya. Bahkan serasa tiada benturan masalah yang berarti.
Saya juga mengalami sendiri, ketika menghadapi pelanggan nakal dan mau menang sendiri. Jika ditagih, mereka pasang wajah angker dan hendak menerkam.
Hak saya mengingatkan kewajiban mereka, dan menghindari konflik. Jika mereka tidak membayar, itu bukan urusan saya. Tapi urusan mereka dengan Sang Pencipta. Karena materi itu tidak dibawa mati, tapi perilaku kita di dunia itu yang harus dipertanggung-jawabkan di hadapan-Nya.
Saya tidak menagih mereka lagi dan ikhlas, karena percaya Tuhan murah hati. Pintu kemudahan-Nya dibukakan untuk saya, sehingga berkelimpahan rezeki.
Hidup ikhlas itu berkualitas. Ketika kita percaya dan mengimani Tuhan, tanpa harus meminta, kita diberi-Nya!
…
Mas Redjo

