Kapan terakhir dirimu mendapatkan hadiah yang berharga? Dalam bentuk apa?
Yesus mendapatkan hadiah dari Bapa-Nya seperti yang diungkapkan-Nya: “Bapa, mereka adalah hadiah-Mu untuk-ku” (Yoh 17: 24). Yang dipunyai Yesus, ya kita ini. Tapi kadang-kadang, kita merasa bukan apa-apa atau siapa, bahkan tidak berharga sama sekali.
Citra diri negatif itu yang membuat kita terjebak kepada hal negatif, termasuk tidak bisa melihat diri kita secara positif. Kesalahan yang terbesar adalah kita tidak bisa bangkit dari citra diri yang negatif ini. Lalu, kapan kita mampu melihat sesuatu yang berharga dalam diri kita, misalnya sebagai anak-anak Allah?
Lihatlah, dihadapan Bapa-Nya, kita disebut Yesus sebagai hadiah yang berharga. Tapi kadang-kadang, kita bertanya, “Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji mata-Mu?” (2 Tim 4: 18). Atau seperti kata Pemazmur, “Siapakah manusia itu sehingga Engkau memperhatikannya?” (Mazmur 8). Semua pertanyaan-pertanyaan itu bisa diajukan kepada Tuhan, ketika kita merasa tidak layak dan tidak pantas, apalagi merasa berdosa.
Apakah cara seperti itu mau diteruskan? Jangan. Karena Yesus telah menyebut kita sebagai hadiah yang berharga di dalam isi doanya. Syukurilah, bahwa kita jadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup Yesus, bahkan sebagai hadiah dari Bapa. Maka, jadilah hadiah yang baik itu dengan bersikap taat dan setia kepada-Nya.
Rm. Petrus Santoso SCJ

