Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pendidikan adalah akar
dari seluruh proses
hidup dan kehidupan.”
(Amanat Kehidupan)
Educare: “Ex Ducere” Proses ‘Menarik ke luar Seluruh Potensi Anak’
Pendidikan adalah induk dan akar dari kehidupan sejati. Maka, pendidikan itu identik dengan sebuah keluarga sebagai dapur utama dari kehidupan. Proses mengedukasi, ‘educare’, yang bermakna ‘menarik ke luar seluruh potensi bawaan anak manusia’ dibutuhkan suatu aksio kesejatian yang mengalir dari hati manusia dewasa.
Puisi
“Bona culina, bona disciplina”
“Dari dapur yang baik, maka disiplin pun akan baik.”
Proses edukasi identik dengan kedisiplinan dan kejujuran serta kesejatian
Kedisiplinan itu bermula dari dapur keluarga
Hendaklah suatu proses pendidikan
tunduk pada hukum dasar disiplin dan jujur sejati anti kamuflase pun sarat rekayasa
Kesejatian hidup mengalir lewat lidah Ibu sejati yang tercurah dalam seluruh proses layanan edukasi tulus dari rahim Ibunda
(Pada Sepotong Catatan)
Hari Pendidikan Nasional
Refleksi pendidikan sejati ini ditulis tepat pada saat peringatan hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2025. Saat itu nurani tulus saya seolah kembali tersentak bersama spirit bangsa besar ini untuk kembali menorehkan kobaran api dari cetusan pahlawan edukasi kita, Ki Hajar Dewantara, sang pengukir spirit pendidikan di negeri bermartabat ini.
Pentingnya Kesejatian Bersikap
Tanpa kesejatian hidup, tanpa ketulusan dalam proses beredukasi, dan tanpa kejujuran dalam bersikap, maka sejujurnya; bahwa pendidikan kita akan kian merana, mati, dan akhirnya akan terkubur di dasar bumi.
Sumber kesejatian hidup itu, justru akan bermula dari dalam dapur keluarga. Mengalir deras dari kesadaran sejati para orangtua. Maka, para orangtua itu adalah pendidik utama dan pertama di dalam proses pembentukkan jati diri seorang anak.
Berada di Depan, Tengah dan di Belakang
Kita telah mengenal betapa luhurnya gagasan besar dari Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantata “tut wuri handayani.” Hal ini bermakna, bahwa ‘di mana posisi para orangtua dan para guru berada dalam proses layanan edukasi?’
Mereka mutlak hadir dan ada bersama, baik berada di posisi belakang, di tengah, dan di depan anak. Mereka perlu menunjukkan, mendampingi, dan menuntun langkah anak di jalan edukasi ini.
Verba Docent, sed Exempla Trahunt
Seperti sebuah kebenaran yang terungkap lewat adagium berbahasa Latin, “kata-kata itu mengajarkan, tetapi suri teladan itu jauh lebih memikat hati.”
Untuk mewujudkan tujuan mulia itu, maka mereka perlu selalu hadir, pertama-tama lewat sikap dan suri teladan handal serta tidak sekadar dengan berkata-kata.
Karena bukankah layanan pendidikan itu adalah induk dan akar dari seluruh proses pembentukkan karakter serta jati diri seorang anak manusia?
“Mari, jadi seorang manusia sejati!”
Kediri, 3 Mei 2025

