Pagi ini aku merenung di kamarku. Hening. Tanpa suara. Merasakan setiap tarikan nafasku. Aku melihat kedalaman hati. Bertemu dengan diriku.
Kehangatan sinar matahari dari jendela membuat kamar makin nyaman dengan suhu udara 24C. Kadang terdengar suara orang lewat di bawah dengan bahasa yang berbeda-beda: Kantonis, Portugis, Mandarin, Tagalog, Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Juga suara dari kendaraan: mobil dan motor. Jalan di bawah kamarku tidak pernah sepi dari pagi hingga pagi lagi.
Di tengah berisiknya suara-suara itu, ada suara burung, di antaranya burung tekukur dari pepohonan rindang di area Gedung Konsulat Portugis. Letaknya hanya dibatasi oleh jalan. Setiap hari yang kulihat adalah gedung itu.
Hari-hari kulewati dengan baik, tanpa mengeluh, tapi dengan membaca dan belajar. Hari-hari kulewati dengan merayakan Ekaristi dan berdoa. Di pagi hari, setelah sarapan ada doa hening, tanpa kata. Doa bersama Tuhan.
Hidup memang harus selalu bersama dengan Tuhan. Itu yang kekal dan abadi. Bersama hal-hal yang lain, semuanya bersifat sementara dan tidak bertahan lama. Terlalu banyak hal yang mudah terlupakan dan dilupakan. Sebab, kesenangan dan kepuasan setiap manusia itu berbeda-beda.
Ambillah waktu untuk doa hening. Sebab, di tengah kebisingan itu, kita tetap bisa melihat yang abadi.
Rm Petrus Santoso SCJ

