Salah satu tugas terberat sebagai saksi kerahiman adalah membalas sakit hati dengan memaafkan.
Apa mungkin? Ya, mungkin saja.
Memaafkan orang yang sudah menyakiti adalah bentuk pembalasan yang efektif, karena memaafkan dapat menghilangkan rasa sakit dan dendam dalam diri sendiri, serta membuka jalan untuk melanjutkan hidup baru dengan damai.
Contoh. Kisah anak durhaka di pelajaran agama bukan hanya dongeng. Ada banyak orangtua yang merasa terluka oleh anaknya yang paling disayangi.
“Saya ini kurang apa, Om. Dia, anakku yang bungsu ini terbanyak dapat kasih sayang, tapi dia yang sering nyakiti hati ini. Ketika dia belajar di negeri orang, kutemani sambil kerja. Karena saya tidak bisa Bahasa Inggris, saya kerja di tempat bos, bantu-bantu rumah tangga.” Sambil menghela nafas dan mengusap air matanya dia katakan: “Saya tetap mencintai dia, Om.”
Lanjutnya : “Walaupun bagaimana, dia tetap anakku, Om. Saya harus memaafkan dia, entah sampai kapan. Mungkin sampai 7 x 7 x 7.”
Jadi, memaafkan dia yang menyakiti adalah mungkin sekali. Isteri memaafkan suami, suami memaafkan istri. Banyak sekali!
Salam sehat.
Jlitheng

