Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Mengapa kamu bisa
meninggalkan pekerjaanmu itu? Karena rumah itu tidak memiliki atap.”
(Kisah dari Skotlandia)
Bukankah lasimnya, bahwa semua rumah tinggal, pasti memiliki atap? Bagaimana jadinya, jika ternyata ada rumah tinggal yang memang sungguh tidak memiliki atap? Rumah seperti apakah itu? Bagaimanakah keadaan dan suasana kehidupan para anggota keluarganya?
Rela Meninggalkan Pekerjaan
Ada seorang pria muda yang bekerja sebagai pembantu pada seorang petani kaya di Skotlandia. Petani kaya itu adalah sahabat lama dari Ayahnya.
Sekalipun dia sudah bekerja dengan baik dan gajinya juga memadai, namun setelah dua Minggu, ternyata pria muda itu memutuskan untuk segera meninggalkan pekerjaannya.
Sesampainya di rumah, Ayahnya mengajukan sejumlah pertanyaan, yang bertujuan agar, jika dia ditanya oleh sahabat lamanya, maka dia akan menyampaikan alasan, mengapa putranya rela meninggalkan pekerjaannya itu.
“Apakah, karena pekerjaan itu terlalu berat buatmu?”
“Tidak, sama sekali tidak, Ayah.”
“Ataukah, karena upahnya terlalu kecil, ya?”
“Tidak, upahnya malah sangat tinggi.”
“Atau mungkin kamu tidak berselera dengan makanan di situ?”
“Oh, tidak Ayah, makanannya selalu enak.”
“Jika memang demikian, apakah alasanmu yang paling mendasar, Nak?”
“Begini Ayah, saya rela melepaskan pekerjaan itu, karena rumah tempat saya tinggal itu, justru tidak ada atapnya.”
Mendengar jawaban kritis dari putranya itu, maka terselip juga rasa bangga di dadanya. Mengapa?
Di Skotlandia, ungkapan ‘rumah tanpa atap’ dimaksudkan sebagai ‘rumah atau keluarga yang tidak pernah memiliki tradisi untuk berdoa keluarga bersama.’
(Tonne)
Segelas Susu
Apakah Sikap serta Pandangan Anda?
Setelah Anda mencermati tulisan ini dan memahami maknanya, maka apakah pandangan serta pendapat Anda tentang sikap dari pria muda ini?
Mengapa pula, setelah mendengar alasan mendasar dari putranya itu, terselip juga rasa bangga sang Ayah akan sikap putranya?
Pendidikan yang Baik dan Benar akan Melekat Erat dalam Hati Manusia
Sungguh unik, bahwa makhluk manusia itu, ternyata juga memiliki nurani dan sekeping hati serta tidak sekadar sebagai makhluk yang berakal budi.
Bona Culina, Bona Disciplina
Dari sebuah tradisi dan pendekatan pendidikan yang baik serta benar di dalam sebuah keluarga, maka sungguh akan dibawa mati oleh seorang manusia. Mengapa? Proses pendekatan pendidikan keluarga yang bersifat konsisten dan konsekuen, justru akan mengakar kuat di dalam sanubari seorang manusia. Itulah yang disebut proses pembentukkan karakter dasar di dalam diri manusia.
Seperti tradisi untuk ‘berdoa bersama di dalam sebuah keluarga’ yang telah mengakar kuat di dalam hati seorang anak, kelak akan jadi sebuah bawaan sebagai warisan nurani, yang membentuk sebuah karakter mulia dan jati diri seorang manusia.
Konklusi
Semoga amanat implisit, berupa spirit mulia dari roh utama tulisan ini, mampu menyadari dan menjiwai seluruh alur hidup kita!
Kini, apakah Anda sudah memiliki sebuah rumah yang beratap?
Dasyatnya kekuatan dari tradisi berdoa bersama di dalam keluarga itu ibaratnya membangun sebuah rumah di atas dasar batu.
Kediri, 1 Mei 2025

