Red-Joss.com – Gempita Natal sudah merayap di hati banyak orang. Bahkan di Solo, suasananya telah jadi pesta rakyat, meriah, dan sanggup menghilangkan sekat-sekat yang menjerat kedamaian hati.
Ada satu naskah drama Natal yang ditulis seorang anak muda, judulnya “Palungan yang Hilang.” Menceritakan tentang persiapan Natal yang sangat meriah. Pernak-pernik Natal telah menghiasi kota. Pita serta lampu warna-warni semakin menyemarakkan Natal yang akan dilangsungkan. Semua bersukacita. Tapi tiba-tiba keceriaan mereka berubah menjadi kepanikan. Apa yang terjadi? *Ternyata palungannya hilang.”
Palungan yang menjadi simbol utama kehadiran Yesus raib dari tempatnya.
Panitia kalang kabut, bagaimana mungkin merayakan Natal tanpa palungan?
Mulailah mereka mencari palungan itu, siapa yang lancang dan nekad mengambilnya.
Warga ikut larut dalam kepanikan, dan akhirnya mereka pun turun tangan membantu mencari palungan yang hilang itu.
Tak lama mencari, mereka menemukan palungan itu. Kali ini, mereka terkejut untuk kedua kalinya.
Ternyata, palungan itu ditemukan di rumah seorang janda miskin, ia seorang pemulung, yang anaknya melahirkan di gubuknya.
Ia tidak dapat membeli karpet apa lagi tempat tidur maka ia letakkan cucunya yang lahir ke dalam palungan itu.
Kejadian itu merombak total konsep mereka tentang Natal. Kekesalan karena seseorang telah mengambil palungan itu serta merta sirna dari hati mereka.
Semua panitia Natal memutuskan untuk merayakan Natal di rumah sang janda miskin itu, bukan dalam kemewahan dan gemerlapnya lampu serta pernak-pernik Natal, tapi dalam kesederhanaan.
Mereka akhirnya mengerti, bahwa Natal sesungguhnya adalah merayakan kelahiran Juru Selamat dalam kesederhanaan dan kesetaraan. Seperti peristiwa Betlehem kala itu.
“Adakah palungan untuk Yesus tidak hilang dari dalam hatimu?“
Salam Natal dan jaga palungan hati ini tetap aman untuk Sang Immanuel.
…
Jlitheng

