Oleh: Fr. M. Christoforus BHK
Dunia mengenal beberapa prinsip hidup yang bersifat alamiah.
Hukum sebab-akibat, aksi-reaksi, atau bahkan orang Latin mengenal adagium, “amor gignit amorem,” cinta akan melahirkan cinta.
Tuhan memberikan cinta dan kebahagiaan kepada manusia. Manusia pun bebas menentukan pilihannya.
Saya, jadi teringat akan kisah pahit pedih di taman impian, Eden. Kisah ciptaan teragung yang justru mudah diruntuhkan oleh keangkuhan dan besar kepala. Kisah terbujuk rayu, kisah rasional, mahkota segala ciptaan yang justru ditelantarkan oleh Iblis laknat.
Apa lacur. Pembangkangan yang mengenaskan itu justru melahirkan kesengsaraan abadi lewat, sumpah serapah dari Tuhan.
Kepada sang wanita, terucap, “Engkau akan mengandung dan dengan susah payah melahirkan anakmu ke dunia.”
Kepada sang pria, “Engkau akan bersusah payah bekerja mencari nafkah di dunia.”
Kepada si penggoda, “Engkau akan merana dan berjalan dengan perutmu di bumi.”
‘Amor gignit amorem’ = cinta akan melahirkan cinta.
Cinta dan kebaikan memang akan beranak pinang di bumi ini. Jika Anda bersikap baik, maka sesamamu itu akan juga bertindak baik kepadamu.
Putra-putrimu yang dididik lewat pinta belas kasih akan pula jadi pribadi-pribadi yang penuh belas kasih.
Mengapa demikian? Putra-putrimu telah dibentuk, diasah, dan dididik dengan kasih, maka dia akan memiliki kasih itu. Kasih yang dimilikinya itu akan dilimpahkannya kepada sesamanya.
Bagaimana mungkin, seseorang yang tidak pernah dikasihi akan memiliki sifat kasih, itu suatu yang mustahil, bukan?
Kasih itu hanya diberikan oleh orang-orang yang memiliki kasih.
Hendaklah kamu, saling kasih-mengasihi, karena kasih itu berasal dari Tuhan.
Amor gignit amorem!
Kediri, 28 April 2025

