Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika seekor keledai
menendang saya,
haruskah saya
membawanya ke
pengadilan?”
(Socrates)
Pengajaran Kasih: Membalas Kejahatan dengan Kebaikan
Mencermati sikap batin dan pendekatan filosofis ala Socrates, saya teringat dengan prinsip esensial ‘ajaran kasih’ dari Sang Guru Agung kita, Yesus Kristus.
Cara Cerdas Menghadapi Orang yang Egonya Tinggi
Saran Socrates, “Jika seseorang yang sedang bertengkar denganmu itu menaikkan nada suaranya, agar ia meraih kemenangan, hal itu sungguh amat melelahkan, bukan?”
Kisah berikut ini telah membuktikan kebenaran dan kecerdasan Socrates kepada dunia.
Suatu hari di hadapan umum, Socrates diserang dengan ucapan kasar dan tidak beradab, namun tanpa disertai argumen jitu.
Bagaimanakah sikap dan reaksi Socrates? Menghadapi penghinaan itu, suaranya justru tetap tenang dan tidak meninggi. Dia tidak membalasnya dengan menghina atau pun justifikasi.
Ketika menyaksikan peristiwa tidak mengenakan hati itu, salah seorang muridnya mulai bingung dan bertanya, “Mengapa Guru justru hanya diam dan tenang saja?”
“Muridku, jika seekor keledai dungu menendang kaki saya, haruskah saya membawa keledai itu ke meja hijau di depan pengadilan?”
Oh, betapa dasyatnya kearifan bijaksanawan itu, karena ia tidak pernah akan membungkukkan tubuhnya setingkat orang pandir. Bukankah bersikap diam adalah sebuah sahutan yang paling elegan? Bahkan sungguh terhormat dan beretika, bukan?
(Dari berbagai Sumber)
Secara Etimologis
Ditinjau dari aspek etimologi, bukankah kata ‘keanggunan’, itu justru berasal dari kata ‘elektro’, yang bermakna cahaya cemerlang. Itulah ciri paling khas dari sebuah keanggunan dalam bersikap.
Mari Kita Belajar dari Socrates
Mencermati proses dan cara berpikir ala Socrates, hal bagaimana sebaiknya sikap kita di saat berhadapan dengan pribadi yang egonya tinggi, maka selayaknya kita mutlak dan perlu belajar dari filosofi Socrates.
Tiga Buah Amanat Hidup
Secara implisit dan tidak langsung, beliau telah menitipkan tiga buah pesan amat praktis, agar kita …
(1) Menghindari intonasi suara yang meninggi di saat berdialog.
(2) Jangan sekali-kali kita mau terpancing untuk membalas kata-kata kasar dengan kata-kata kasar pula, dan
(3) Jangan pula kita merendahkan martabat dan derajat kemanusiaan kita serendah orang bodoh.
“Sungguh, kearifan hidup itu hanya mengalir dari ketulusan dan kedamaian sejati!”
Deo Gratia!
Kediri, 27 April 2025

