“Diingatkan secara baik, tapi tidak diterima, bahkan ngeyel. Lebih baik yang waras itu mengalah daripada salah persepsi.” -Mas Redjo
Bagi saya, ribut hal sepele itu tidak ada gunanya, membuang energi, dan malu sendiri. Saya memilih diam, dan mengalah.
Jika sudah mengalah, tapi diinjak dan dilecehkan?
Hal itu terjadi pada saya. Kurang tepa selira, apalagi?
Saya sudah capai mengingatkan, bahkan manager yang ditegur itu tidak mengindahkan saya. Sesekali numpang parkir itu tidak masalah, asal mobil tidak ditinggal oleh sopir. Karena parkiran toko untuk loading barang. Jika mobil barang datang, saya tidak harus menyuruh orang bengkel untuk memindahkannya.
Apakah Bos bengkel itu tidak tahu, bersikap cuwek, atau tidak mau tahu?
Padahal orang-orang bengkel itu sudah diingatkan, bahkan ditegur oleh pengurus RT. Karena mobil yang diparkir di bahu jalan depan bengkel itu mengganggu lalu lalang kendaraan bermotor. Jika mobil berpapasan itu ngepres, sehingga berhenti sejenak di parkiran toko.
Lebih konyol itu muncul nada-nada sumbang dan tidak sedap, karena memojokkan warga yang dituduh iri dengan rezeki bengkel yang selalu ramai. Kata-kata yang memerahkan telinga. Jika bengkel tidak mampu menampung mobil lagi, seharusnya pemiliknya mencari tempat yang memadai. Menyewa atau membeli lahan yang besaran, misalnya. Nyatanya?
Pagi itu, ketika saya sedang menurunkan barang dari ekspedisi, tiba-tiba mobil towing bermaksud parkir di toko, karena sulit masuk ke bengkel yang penuh mobil hingga di bahu jalan. Kebetulan parkiran di toko penuh. Sehingga towing yang menggendong mobil itu berhenti di tengah jalan. Akibatnya jalannya jadi macet, bahkan motor juga sulit lewat.
Tiba-tiba banyak orang, termasuk pengendara motor itu menggeruduk masuk ke dalam bengkel. Terjadi keributan di bengkel. Intinya, warga menolak keras mobil bengkel di parkir di jalan, karena mengganggu mobilitas warga.
Sejak keributan itu, saya tidak pernah melihat mobil bengkel yang diparkir sembarangan di jalan lagi.
Jalanan jadi lega dan lancar.
Mas Redjo

