Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jangan biarkan dirimu
ditentukan oleh
kata-kata orang lain.
Diam bukan berarti menyerah,
melainkan memberi
ruang agar kebenaran dapat berbicara dengan
caranya sendiri.”
(Aristoteles)
Dari Forum Diskusi Filsafat
Dikatakan, jika Anda melemparkan segenggam lumpur ke dalam sebuah danau yang tenang, dan air danau itu mereaksi dengan gelombang yang besar, maka lumpur itu akan kian menyebar. Tapi jika air danau itu tetap tenang, maka lumpur itu akan tenggelam dengan sendirinya.
Refleksi Filsafati
Mari kita dalam suasana hening, mencoba untuk merenungkan kembali, makna dan kearifan sejati dari perumpamaan filsafati di atas!
Bukankah jika Anda bersikap lebih selektif dengan tetap mengambil sikap diam, maka itu adalah sebuah sahutan terbaik atas hinaan yang telah dilontarkan kepada Anda? Bukankah pula, sang arifin telah berpesan, jika Anda mereaksi secara ekstrem atas sebuah hinaan, justru Anda telah memberikan panggung kepada si penghinamu?
Dalam konteks ini, bukankah ia justru akan kian berkiprah dan terus mau memojokkan? Bukankah dalam bersikap diam, Anda justru telah menunjukkan kedaulatan atas diri personalmu? Dalam konteks ini, Anda telah jadi tuan atas diri sendiri.
Pandangan Filsuf Aristoteles
Aristoteles berpandangan, bahwa kekuatan di dalam kebijaksanaan itu akan terpancar ke luar justru tatkala Anda bersikap tetap tenang dan diam di saat dihina dan direndahkan orang.
Mengapa? Jika Anda justru mereaksi secara ekstrem, hal itu akan jadi bahan bakar untuk membesarkan api niat jahat mereka. Maka, hendaknya Anda tetap bersikap diam. Hal itu bermakna, bahwa secara perlahan-lahan Anda telah kembali merebut kemenangan itu.
Ketenangan adalah Kekokohan Sejati
Sekali lagi ditegaskan, bahwa bukankah ketenangan itu adalah kekokohan sejati yang merupakan kekuatan tertinggi atas diri sendiri?
Refleksi Final
Maka, “Jika ditampar pipi kirimu, berikan juga pipi kananmu,” demikian petuah paling agung dari Sang Guru, Yesus Kristus.
Kediri, 26 April 2025

