*Hidup ini sederhana, amat sederhana. Karena yang ribet dan membuat kepala jadi pusing itu si Ego yang mempunyai segudang keinginan.” -Mas Redjo
Pagi tadi, saya diajak main tebak-tebakan oleh pelanggan di toko.
“Berapa banyak DJ menyumbang untuk membangun mushola?” tanya A. Saya tersenyum. DJ itu juga pelanggan baik saya.
“Ngajak taruhan, ni? Kalau benar, belanja banyakkan, ya…” seloroh saya. A manggut sambil menyeruput kopi yang dibuatkan oleh karyawan saya.
“EJ menyumbang tanahnya, benar?”
“Kok Pakdhe tahu?” sergah A kaget, tidak percaya. Saya bergelak, dan menang.
“Karakter DJ itu mudah ditebak, karena saya mengenalnya lebih dari 20 tahun,” jawab saya santai.
Mengapa DJ membeli tanah untuk diwakafkan? Ia memahami hakikat hidup sejati, yaitu dari tanah kita kembali ke tanah.
Saya salut-sesalutnya pada DJ yang tidak ribetan, dan sabar. Meski banyak pelanggannya bermasalah, hutang tidak mau membayar. Tapi ditanggapi DJ dengan adem dan santai.
“Orang yang mempersulit kita itu jangan dibalas, karena bakal persulit diri sendiri. Lebih baik dia diingatkan dan didoakan agar rezeki kita dimudahkan dan lancar.”
Karena ringan tangan dan murah hati, rezeki DJ mengalir tiada henti, bahkan rezekinya melebihi para pendahulunya. Dari menjajakan dagangannya keliling kampung, kini menggurita. Ia mempunyai 100an outlet, dan usahanya merambah ke bidang ekspedisi, showroom mobil, dan sebagainya.
Filosofi hidup DJ yang rendah hati itu adalah, dari tanah kita kembali ke tanah. Sehingga ia menjalani hidup ini tanpa beban dan ikhlas.
Sejatinya, hidup yang terberkati itu hidup untuk memberi!
Mas Redjo

