“Komitmen itu harus dihidupi dan konsekuensi itu didisplinkan agar kita tidak dininabobokan ke dalam jurang kemalasan.” -Mas Redjo
Ketika anak menyarankan agar kamar tidur kami dilengkapi dengan Tv komplet, dengan halus dan tegas, saya menolak. Alasan saya, kamar tidur itu privasi untuk istirahat. Jika nonton tv untuk hiburan itu lebih baik di ruang tamu sambil ngobrol dengan anak-anak agar hubungan kami makin dekat dan akrab.
Bagi saya pribadi kamar tidur itu privasi dan khusus untuk istirahat. Jika sedang konflik atau masalah keluarga, kami berbincang dan menyelesaikan di kamar agar anak tidak tahu. Kami ingin tampak kompak dan rukun lahir batin di hadapan anak-anak.
Begitu pula dengan Hp, kami sepakat untuk tidak membawa ke kamar. Jika bermain Hp, silakan di luar kamar tidur. Bagi kami, bermain Hp di kamar itu mengganggu, juga tidak menghargai privasi pasangan. Fasilitas Tv dan Hp yang dibawa ke kamar itu hanya menggoda kami untuk bersantai-ria dan jadi malas.
Sebagai anggota team konseling, saya pernah menjumpai keluhan istri pada pasangan lansianya yang bermain Hp semalaman sambil menyetel lagu dangdut di kamar yang benderang. Padahal biasanya tidur dengan lampu menyala redup. Selain mengganggu, istri juga tidak bisa tidur. Jika diingatkan, suami sering tidak terima, lalu cekcok.
Tv dan Hp itu sederhana, tapi, juga penting dan dibutuhkan. Jika tidak komitmen untuk menerapkan disiplin kebiasaan baik dan benar, kita bakal terlena dan tenggelam dalam kemalasan.
Jika ada hal penting dari keluarga besar, seperti berita saudara yang sakit atau kematian, di saat kami sedang beristirahat malam, silakan menghubungi lewat telepon anak untuk diteruskan pada kami.
Dengan menghidupi komitmen itu secara nyata, sesungguhnya saya mengajar anak-anak untuk disiplin melakukan hal-hal baik dan positif sebagai acuan, jika kelak berumah tangga dan dalam mendidik serta membesarkan anak-anak mereka.
Pengendalian diri untuk menyikapi perkembangan teknologi itu penting agar kita tidak dilindas zaman atau dikuasainya.
Keteladanan itu dari hati, karena hidup ini harus dimaknai.
Mas Redjo

