Sapaan dari Yesus yang bangkit itu amat pas untuk situasi dan kondisi yang dialami oleh para murid.
Saat itu mereka bersukacita atas kabar kebangkitan-Nya. Di sisi yang lain, mereka takut, bingung, panasaran dengan yang terjadi. Memori mereka tidak bisa cepat untuk menangkap peristiwa itu.
Inilah hebatnya Yesus, selalu tahu dan bisa memberikan langkah yang amat tepat. Ucapan “Salam damai bagimu” – “Shalom” dimaksudkan untuk mengkondisikan situasi batin mereka.
Pertama-tama untuk menyambut Dia yang bangkit itu dibutuhkan hati dan ruang yang benar-benar damai. Jika tidak mempunyai ruang ini, maka berita besar yang terjadi itu tidak akan sampai kepada yang lain.
Ucapan “Salam damai bagimu” – “Shalom” itu dimaksudkan juga supaya mereka bisa berdamai dengan situasi yang terjadi. Rasa sakit hati, jengkel, dan marah yang masuk dalam kehidupan mereka di sekitar pengadilan, penyiksaan, penyaliban serta kematian Yesus. Sekarang Yesus yang bangkit itu mengajak mereka untuk berdamai dengan pengalaman-pengalaman pahit itu, sehingga berita lain yang lebih besar dan penting bisa dibagikan kepada yang lain.
Bukankah kita sendiri juga sering mengalami hal-hal ini. Misalnya, ucapan ‘Salam Damai’ dari orang lain, tidak mengubah apa-apa. Yang penting sudah tersenyum, melambaikan tangan, atau berjabat tangan (beberapa melakukannya dengan pelukan dan ciuman). Sehingga pesan kebangkitan Yesus yang amat kuat ini, kehilangan maknanya. Tinggal seremonial saja.
Coba dipikirkan lagi, bagaimana sapaan Yesus yang bangkit, “Salam damai bagimu” ini memberikan daya ubah. Caranya? Kita dituntut peka dan peduli dengan pribadi-pribadi di sekitar kita, dan yang sedang dialami oleh mereka. Kita menangkap semua pesan itu dengan rasa iman. Sehingga yang kita ucapkan itu memberi rasa yang berbeda untuk mereka. Ini mudah untuk dilakukan, tapi kita sering tidak melakukannya. Ini juga terjadi saat kita berjumpa dengan siapa saja. Ucapan salam itu sering terlupakan, sebabnya:
- Karena gengsi.
- Tidak mau direpotkan.
- Pasif dan menunggu.
- Takut dan merasa tidak pantas.
- Takut ditolak dan tidak diterima.
- Malu.
Jadi, akhirnya, sepanjang perjumpaan atau acara itu tidak bisa saling menyapa. Sehingga kesempatan yang baik itu hilang. Lucunya, kita maunya disapa dulu, tidak mau menyapa. Sok penting.
Jadilah pribadi-pribadi yang spontan dan ramah dalam menyapa.
Kita diajari oleh Yesus menyapa dengan membawa berita yang mendamaikan. Sapaan kita pada siapa pun juga harus membawa pesan yang mendamaikan. Sebab pesan damai adalah pesan yang penting, apalagi untuk kondisi masyarakat kita seperti sekarang ini: Dibutuhkan kedamaian di mana-mana.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

